Produksi perhiasan logam untuk pasar ekspor. Perajin menyelesaikan proses pembuatan perhiasan berbahan logam di Studio Sweda, Kotagede, Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat (10/7/2026). ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Lanskap ekonomi global diperkirakan akan semakin kompleks pada semester II 2026. Ketidakpastian makroekonomi, konflik geopolitik, hingga tekanan harga energi membuat pertumbuhan di berbagai negara bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Di tengah kondisi tersebut, Manulife Investment Management menilai investor perlu lebih selektif dalam menyusun portofolio investasi. Strategi diversifikasi dan pengelolaan aset secara aktif dinilai menjadi kunci untuk menghadapi pasar yang semakin dinamis.
Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan kondisi ekonomi global masih dibayangi gangguan rantai pasok yang berkepanjangan serta tingginya harga komoditas. Di sisi lain, proses normalisasi sektor energi dan distribusi barang juga belum sepenuhnya pulih sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar.
Baca juga:
Manulife: Saham Asia Masih Menjanjikan di Semester II 2026, AI dan Semikonduktor Jadi AndalanMenurutnya, konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah turut mengubah arah kebijakan bank sentral di berbagai negara. Harapan pasar terhadap pelonggaran suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi secara serentak kini mulai bergeser.
Tingginya biaya energi memaksa sejumlah bank sentral tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (hawkish) guna mengendalikan risiko inflasi.
"Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat, atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi, terbukti jauh lebih resilien," ujar Yuting.
Ia menambahkan, China mampu meredam dampak lonjakan harga minyak dunia melalui diversifikasi sumber impor energi, pengendalian harga di dalam negeri, serta cadangan energi yang memadai.
Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, menurut Yuting, pemerintah China memiliki ruang kebijakan yang lebih fleksibel untuk merespons apabila kondisi ekonomi global kembali memburuk.
Diversifikasi Jadi Strategi Utama
Sementara itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, Luke Browne, menilai kondisi ekonomi yang semakin tidak merata justru memperkuat pentingnya strategi investasi yang selektif dan terdiversifikasi.
Menurutnya, pasar tenaga kerja global yang masih solid membuat peluang penurunan suku bunga secara agresif dalam waktu dekat semakin kecil. Kondisi ini menuntut investor lebih cermat dalam menentukan alokasi aset.
"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset," kata Browne dikutip Antara.
Ia menjelaskan, meski laba perusahaan dan pertumbuhan ekonomi masih relatif tangguh, peluang maupun risiko investasi kini semakin berbeda di setiap kawasan dan kelas aset.
Karena itu, diversifikasi portofolio dan pengelolaan investasi secara aktif menjadi semakin penting agar investor mampu memanfaatkan peluang sekaligus mengurangi risiko di tengah tingginya volatilitas pasar.
Saham, Komoditas, dan Obligasi Masih Menarik
Manulife memperkirakan kepemimpinan pasar saham ke depan tidak lagi hanya didorong oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar maupun sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Peluang investasi juga dinilai mulai terbuka pada aset berkualitas tinggi dengan valuasi yang lebih menarik.
Selain itu, strategi multi-aset yang seimbang diperkirakan menjadi pilihan terbaik untuk menghadapi gejolak geopolitik dan perubahan valuasi pasar global.
Asia juga dinilai masih memiliki prospek positif berkat pertumbuhan struktural yang kuat serta meningkatnya investasi yang berkaitan dengan pengembangan teknologi AI.
Di sisi lain, Manulife melihat peluang pada sejumlah aset riil, termasuk komoditas yang mendukung pembangunan infrastruktur AI. Instrumen kredit juga masih menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik.
Sementara untuk mengelola risiko perubahan suku bunga, Browne menyarankan investor mempertimbangkan obligasi berdurasi pendek sebagai bagian dari strategi investasi yang lebih defensif.