Foto yang diambil pada 5 Oktober 2022 menunjukkan kantor pusat Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina, Austria. ANTARA/Xinhua/Wang Zhou
WINA, ARAHKITA.COM - Pertumbuhan permintaan minyak dunia diperkirakan melambat tajam pada 2026. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan menjadi 200.000 barel per hari (barrels per day/bpd), lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 400.000 barel per hari.
Dalam laporan pasar minyak bulanan yang dirilis Selasa (13/10/2026), OPEC juga memberikan gambaran berbeda untuk tahun berikutnya. Permintaan minyak global diperkirakan tumbuh lebih cepat pada 2027, dengan tambahan konsumsi mencapai sekitar 2,6 juta barel per hari.
Perubahan proyeksi ini menunjukkan bahwa pasar minyak global masih menghadapi ketidakpastian. Perlambatan permintaan dalam waktu dekat diperkirakan berbalik menjadi peningkatan yang lebih kuat ketika kebutuhan konsumsi pulih dan negara-negara mulai mengisi kembali persediaan minyak mereka.
Baca juga:
OPEC+ Tahan Produksi Minyak November 2026, Tujuh Negara Sepakat Pertahankan Batas PasokanPermintaan Minyak Negara Maju Diperkirakan Menurun
Berdasarkan laporan bulanan OPEC yang dikutip sejumlah media internasional, termasuk Reuters, revisi proyeksi untuk 2026 mencerminkan perbedaan arah permintaan minyak di kelompok negara maju dan negara berkembang.
Permintaan minyak di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) diperkirakan turun sekitar 200.000 barel per hari secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sebaliknya, negara-negara di luar kelompok OECD diperkirakan mencatat pertumbuhan permintaan sekitar 400.000 barel per hari. Dengan demikian, pertumbuhan di kelompok non-OECD belum cukup untuk menghasilkan kenaikan permintaan global yang lebih besar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan konsumsi minyak tidak berlangsung seragam di seluruh dunia. Permintaan di negara maju dan negara berkembang dapat bergerak berbeda, bergantung pada kondisi ekonomi serta kebutuhan energi masing-masing kawasan.
Proyeksi 2027 Justru Naik Menjadi 2,6 Juta Barel per Hari
Meski memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2026, OPEC justru menaikkan perkiraan untuk 2027.
Dalam laporan terbarunya, organisasi tersebut memperkirakan permintaan minyak dunia akan meningkat sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,4 juta barel per hari.
Reuters, dalam laporan bertajuk OPEC Raises 2027 Oil Demand View, Citing Need to Rebuild Stocks pada 13 Oktober 2026, menyebut kebutuhan untuk memulihkan persediaan minyak yang terkuras akibat perang Iran sebagai salah satu alasan utama di balik peningkatan proyeksi tersebut.
Artinya, kenaikan permintaan pada 2027 tidak semata-mata berkaitan dengan pertumbuhan konsumsi bahan bakar. Kebutuhan untuk membangun kembali cadangan minyak juga diperkirakan menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar.
Persediaan minyak berperan sebagai penyangga ketika pasokan terganggu atau terjadi lonjakan kebutuhan. Ketika stok menurun, pemerintah, perusahaan energi, dan pelaku perdagangan dapat meningkatkan pembelian untuk memulihkan tingkat persediaan ke posisi yang dianggap memadai.
Perbedaan Proyeksi Menunjukkan Ketidakpastian Pasar Energi
Gambaran pasar minyak global juga perlu dilihat dari proyeksi lembaga energi lainnya.
Dalam Oil Market Report September 2026, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia justru akan turun 2,5 juta barel per hari pada 2026. IEA mengaitkan proyeksi tersebut dengan berlanjutnya kebuntuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran yang menghambat normalisasi arus pasokan energi.
IEA juga memperkirakan permintaan akan pulih pada 2027, dengan pertumbuhan sekitar 2,6 juta barel per hari.
Perbedaan tajam antara proyeksi OPEC dan IEA untuk 2026 menunjukkan bahwa penilaian terhadap pasar minyak masih sangat dipengaruhi oleh asumsi mengenai kondisi geopolitik, pasokan, dan perkembangan konsumsi global.
Karena itu, proyeksi permintaan minyak tidak bisa dibaca sebagai angka yang berdiri sendiri. Perubahan situasi geopolitik maupun pemulihan distribusi energi dapat mengubah perkiraan kebutuhan minyak dalam waktu relatif singkat.
Pasar Minyak Menanti Perkembangan pada 2027
OPEC menilai perlambatan permintaan pada 2026 tidak serta-merta menunjukkan bahwa kebutuhan minyak global akan terus melemah. Organisasi tersebut justru memperkirakan adanya peningkatan signifikan pada tahun berikutnya.
Dalam laporan bulanannya, OPEC menyatakan bahwa permintaan minyak diperkirakan melambat pada 2026 sesuai proyeksi terbaru, sebelum meningkat pada tahun berikutnya seiring besarnya kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan minyak.
Namun, realisasi proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan pasar energi dunia. Gangguan jalur distribusi, konflik geopolitik, pemulihan ekonomi, dan perubahan pola konsumsi akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Bagi negara produsen maupun konsumen, perubahan proyeksi ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan pasar minyak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga oleh perkembangan permintaan dan ketersediaan persediaan.
Dengan pertumbuhan permintaan yang diperkirakan lebih kuat pada 2027, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada seberapa cepat konsumsi pulih dan bagaimana kebutuhan pengisian kembali stok akan memengaruhi keseimbangan pasokan serta permintaan minyak global.