Loading
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) memperkenalkan #Neoliuner, kampanye pemasaran terbesar pertama BNC yang diluncurkan pada Kamis, 2 Desember 2021. (Foto: Tangkapan Layar)
SEMAKIN pesatnya adopsi digitalisasi yang dilakukan masyarakat, mendorong perbankan juga harus menyesuaikan bisnisnya. Bank Indonesia (BI) meyakini kolaborasi Financial technology (fintech) dan bank dinilai bisa saling menguntungkan kedua belah pihak.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendrata dalam OJK Virtual Innovation Day 2021, Selasa (12/10/2021) kepada media.
BI memprediksi transaksi digital banking pada 2021 juga akan meningkat sebesar 30 persen Year on Year dengan nilai mencapai Rp 35.600 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana menilai pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir 1,5 tahun di Tanah Air mendorong upaya transformasi digital di sektor perbankan menjadi suatu keniscayaan.
"Kondisi pandemi mengharuskan kita untuk menempatkan transformasi digital menjadi suatu prioritas jika kita tidak mau ditinggalkan oleh para nasabah," ujar Heru.
Selama pandemi, tuntutan akselerasi digital semakin mengemuka didorong perubahan harapan publik akan adanya layanan keuangan yang lebih cepat dan lebih efisien. Bank dituntut dapat melayani nasabah dengan lincah agar dapat bertahan dan juga berdaya saing.
Merespon hal itu, otoritas pun merilis Peraturan OJK (POJK) No.12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum guna memberikan landasan bagi perbankan dalam mengakselerasi perbankan digital. Beleid yang sudah lama ditunggu itu pun patut diapresiasi.
Dalam aturan tersebut, OJK memperkuat aturan kelembagaan mulai dari persyaratan pendirian bank baru, aspek operasional, sampai pengakhiran usaha antara lain penyederhanaan dan percepatan perizinan pendirian bank dan jaringan kantor, peningkatan modal bagi pendirian bank baru, dan pengaturan proses bisnis termasuk layanan digital atau pendirian bank digital.
OJK juga mempertegas pengertian bank digital sebagai Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha yang utamanya melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat atau dapat menggunakan kantor fisik yang terbatas.
Digitalisasi Layanan
Bank yang saat ini telah melakukan digitalisasi produk dan layanan (incumbent) ataupun melalui pendirian bank baru yang langsung berstatus full digital banking, dapat disebut sebagai bank digital. Regulator tidak mendikotomikan atau memisahkan antara bank yang telah memiliki layanan digital, bank digital hasil transformasi dari bank incumbent, ataupun bank digital yang terbentuk melalui pendirian bank baru (full digital bank).
PT Bank Neo Commerce, Tbk misalnya, sebelumnya dikenal sebagai Bank Yudha Bhakti, merupakan bank nasional yang telah berkiprah selama 30 tahun. Mulai tahun 2019, perusahaan bertransformasi menjadi bank digital dengan memberikan berbagai layanan keuangan, baik komersial, konsumer, hingga ritel. Bank Neo Commerce tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2015 dan semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) memperkenalkan #Neoliuner, kampanye pemasaran terbesar pertama BNC yang diluncurkan pada Kamis 2 Desember 2021. Mengusung tema New Bank New Rules, melalui kampanye ini, Bank Neo Commerce semakin memperkuat posisinya sebagai bank digital yang unggul dalam sisi fleksibilitas dan keuntungan produk yang maksimal.
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) memperkenalkan #Neoliuner, kampanye pemasaran terbesar pertama BNC yang diluncurkan pada Kamis, 2 Desember 2021. (Foto: Tangkapan Layar)
Maritsen Darvita, VP-Head of Marketing, Bank Neo Commerce menjelaskan bahwa kampanye #Neoliuner memberikan masyarakat keleluasaan untuk melakukan transaksi di bank dengan cara yang baru, “Kampanye ini lahir dari masyarakat yang ingin memaksimalkan keuntungan dari produk perbankan yang mereka pilih, namun masih terbentur halangan dan kesulitan yang melelahkan. Kami ingin menunjukkan bahwa produk perbankan BNC sangat fleksibel sehingga siapa saja dapat mengatur tujuan finansial mereka dengan lebih leluasa dan tanpa batasan,” paparnya.
Esensi dari #Neoliuner, New Bank New Rules, Maritsen menjelaskan lebih lanjut, “#Neoliuner adalah aspirasi yang kami tangkap dari setiap nasabah kami untuk menjadi kaya dan sejahtera. Sedangkan New Bank New Rules adalah semangat BNC sebagai bank digital baru untuk memberikan terobosan yang sama sekali berbeda, seakan-akan BNC membuat benchmark bagaimana sebuah bank digital seharusnya dalam membuat layanan dan produk. BNC melihat masyarakat sering salah kaprah dalam esensi menyimpan uangnya di bank, dengan memaklumi kalau uang yang mereka simpan berkurang jumlahnya. BNC menilai tanggung jawab bank harusnya tidak hanya sekadar berhenti dengan memberikan keamanan dan kenyamanan, tapi juga harus memberikan keuntungan. Bank bukan sekadar tempat menaruh uang dan melakukan transaksi, tapi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan nasabah untung. Sebagai bank digital, BNC sadar untuk mencapai hal tersebut perlu terobosan dan keberanian, yang tercermin dari produk dan layanan kami yang inovatif dan terbaik di kelasnya, yang ditawarkan dengan pilihan yang luas dan fleksibel.”
Pandemi telah membuat tingkat kesadaran masyarakat untuk menabung lebih baik daripada sebelumnya. Riset dari YouGov menunjukkan Indonesia menjadi negara ketiga tertinggi di mana 34% responden lebih banyak menabung selama pandemi. Sementara, 54% responden tercatat berencana untuk menabung sebagai persiapan dana darurat selama setahun mendatang.
Tren positif tersebut disambut baik oleh BNC dengan memperkenalkan berbagai fitur tambahan yang bermanfaat dan praktis, di antaranya:
1) Neo Jurnal; untuk mengatur regular saving account secara fleksibel; misalnya alokasi dana untuk memulai bisnis, membeli barang impian, maupun keperluan lainnya,
2) Neo Now; produk tabungan dengan bunga yang tinggi tanpa adanya masa tunggu pencairan dengan akumulasi bunga sebesar 6% per tahun,
3) Neo Wow; beragam produk deposito dengan minimum setoran mulai dari Rp200.000 dengan pilihan waktu pencairan dari satu minggu, satu bulan, tiga bulan, enam bulan, sampai 12 bulan. Produk Neo Wow juga menawarkan imbal balik deposito tertinggi, yaitu 8% p.a untuk produk dengan tenor 12 bulan. Selain itu, BNC juga fokus mengembangkan produk yang menyenangkan dan interaktif, misalnya melalui fitur chat, transfer dengan memasukkan nomor telepon, games interaktif yang edukatif, dan lain sebagainya.
Sementara itu, Gading Marten, Aktor dan Pengusaha yang turut hadir dalam sesi talkshow peluncuran kampanye #Neoliuner juga menceritakan betapa pentingnya fleksibilitas akses dan pengelolaan keuangan yang simpel dan praktis untuk mendukung aktivitas sehari-harinya. “Saya turut mendukung kemunculan neobank dan fitur-fitur perbankan serta investasi yang tersedia dalam satu aplikasi karena memudahkan saya dalam mengatur keuangan untuk keperluan pribadi dan bisnis. Perjalanan menjadi seorang miliuner menjadi lebih ringan karena BNC mampu menawarkan solusi praktis untuk generasi muda yang mendambakan kebebasan, keleluasaan, serta keuntungan yang maksimal dalam mencapai tujuan finansial mereka.”
Melalui peluncuran kampanye #Neoliuner, BNC berharap dapat meredefinisi sistem perbankan lama yang terkesan kaku dan berbelit-belit. Hari yang bersejarah ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk bersemangat menyusun impian finansial mereka berdasarkan aturan-aturan yang mereka susun sendiri sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing. Sejak pertama kali diluncurkan di akhir Maret 2021 hingga November 2021, BNC mencatatkan lebih dari 12 juta nasabah yang menjadikan BNC memimpin kategori bank digital. Selain itu, BNC juga dinobatkan sebagai bank digital dengan jumlah transaksi tertinggi oleh ALTO, aplikasi finansial yang paling populer oleh majalah The Finance, dan memimpin free chart apps di semua kategori di Google PlayStore dan di kategori Finance di AppStore pada bulan Oktober lalu.
“BNC adalah bank digital yang berani melakukan inovasi dan terobosan yang teraplikasi di berbagai layanan dan produk kami yang kompetitif dan menguntungkan. Sedari awal, kami membangun BNC dengan nilai-nilai untuk memberikan keuntungan maksimal untuk nasabah. Kampanye #Neoliuner ini semakin mengukuhkan kultur perusahaan yang kredibel, luwes, dan nyaman dengan semangat utama Banking, Above, and Beyond,” tutup Maritsen.
Sementara Bankir senior Jahja Setiaatmadja mengatakan, bank konvensional memang melayani seluruh nasabah dari berbagai segmen dan usia, namun bank digital dibutuhkan karena ada target pasar tertentu atau disebut niche market yaitu generasi milenial dan generasi Z yang lebih melek dan terbiasa dengan dunia digital. Generasi tersebut membutuhkan layanan khusus yang bisa diberikan oleh bank digital.
"Di bank konvensional itu ada nasabah dari usia 18-20 tahun sampai usia 90 tahun, dan tidak semua digital savvy. Tentu kita akan tetap melayani mereka dengan produk-produk yang mereka sudah comfortable, tapi untuk generasi muda tentunya kita harus siap menyediakan digital sebagai alat yang memudahkan mereka bertransaksi," kata Jahja.
BCA saat ini melayani hingga 40 juta transaksi per harinya di mana 86,3 persen sudah dilakukan di luar cabang, 13 persen dilakukan di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang didominasi setor dan tarik tunai, dan hanya 0,7 persen nasabah yang datang ke kantor cabang.
Digitalisasi tampak jelas mengurangi aktivitas nasabah di kantor cabang, walau memang tidak bisa menggantikan keberadaan kantor cabang itu sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri masih ada nasabah-nasabah yang belum siap menerima digitalisasi dan masih nyaman dengan layanan perbankan langsung, serta transaksi-transaksi bernilai besar yang masih harus dilakukan secara fisik. Bank digital pun hadir dan akan lebih fokus melayani transaksi individual dan ritel.
Semakin Ketat
Ke depan, kompetisi di pasar bank digital diprediksi akan semakin ketat dengan semakin banyaknya pemain baru. Berdasarkan data OJK, total ada 14 bank, baik yang tengah dalam proses go digital maupun yang sudah mengklaim sebagai bank digital antara lain Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk, PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Bank Capital Tbk, PT Bank Harda Internasional Tbk, PT Bank QNB Indonesia Tbk, PT KEB HanaBank, Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW Bank UOB, Jago dari Bank Jago, MotionBanking dari MNC Bank, dan Bank Aladin.
Kendati begitu, Jahja memperkirakan dalam satu dekade ke depan, hanya akan ada tiga bank digital yang akan bertahan dan memimpin pasar bank digital.
Ekonom senior Institute for Development of Economics anda Finance (Indef) Aviliani juga sepakat dengan Jahja. Tren perkembangan bank digital luar biasa meski kecenderungannya di Indonesia bank digital konsepnya masih hybrid alias masih tetap ada kantor cabang, tidak menjadi neobank yang benar-benar tanpa kantor cabang. Hal itu disebabkan perusahaan atau korporasi yang menyimpan dananya di bank masih didominasi oleh orang yang berusia di atas 50 tahun alias baby boomers yang cenderung harus dilayani.
Dengan digitalisasi, ke depan memang akan lebih banyak transaksi dari nasabah ritel. Ini yang ramai-ramai digarap oleh bank digital walau nanti banyak faktor yang menentukan seberapa jauh bank digital tersebut tetap eksis.
"Kita lihat trennya bank digital ini ke depannya akan terjadi semacam euforia bahwa semuanya ingin menjadi bank digital, tapi pada saatnya itu akan juga terjadi seleksi secara alami karena bank digital itu tentu saja bicara tentang economic of scale atau skala ekonomi. Jadi kalau skala ekonominya itu tidak besar-besar, otomatis ia tidak akan mampu," ujar Aviliani.
Penilaian tersebut berkaca dari fenomena di industri e-commerce yang tadinya tumbuh namun kemudian sebagian besar pelakunya terengah-engah atau bahkan tumbang karena tidak mencapai skala ekonomi atau hanya hidup untuk operasional saja.