Selasa, 27 Januari 2026

Sumba Buat Kagum Frans Go, dari Berbalut Kain Sumba, Makan Adat hingga Jadi Warga Kampung Adat Padangi Rowa


 Sumba Buat Kagum Frans Go, dari Berbalut Kain Sumba, Makan Adat hingga Jadi Warga Kampung Adat Padangi Rowa CEO GMT Institute, Ir. Fransiscus Go, SH, saat bincang-bincang dengan tetua adat Kampung Padangi Rowa, Sumba Barat, belum lama ini. (Foto: Istimewa)

SUMBA, ARAHKITA.COM – Belum lama ini Fransiscus Go, biasa disapa Frans Go bersama tim, ketika road show ke Pulau Sumba, di Nusa Tenggara Timur. Sepanjang perjalanan melewati Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat hingga Sumba Barat Daya, tak henti-hentinya CEO GMT Institute itu menyatakan kekagumannya. Mata dimanjakan perbukitan bak “Bukit Teletubbies”. Hamparan sawah yang luas nan datar, mengundang pujian. Lebatnya hutan yang masih perawan, sungguh pemandangan yang menakjubkan. “Sumba benar-benar hebat. Saya kagum dibuatnya,” celoteh Frans Go.

Beberapa destinasi wisata dan perkampungan adat, Frans Go kunjungi. Salah satunya Kampung Adat Padangi Rowa. Kunjungan itu di luar ekspektasi Frans Go. Sebab, dia hanya ingin bertemu. Bercerita dari hati ke hati. Soal siapa dia, Apa keinginannya, hingga rencana maju di Pilgub NTT.

Sungguh tak terbayangkan dan tak seperti yang “digrand desain”. Waktu itu Rabu, 17 Januari 2024. Di siang bolong namun berhawa sejuk. Kampung Adat Padangi Rowa jaraknya masih di sekitaran Kota Waikabubak, ibukota Sumba Barat. Kampung itu didiami serumpun keluarga. Mereka membangun rumah, mengelilingi beberapa kuburan leluhur yang dimakamkan di batu-batu berbentuk peti jenazah. Kabarnya, kuburan leluhur itu sudah berumur ratusan tahun.

Begitu tahu Frans Go dan tim telah tiba, warga kampung lalu berkumpul. Sejurus kemudian, Direktur Yayasan Felix Maria Go itu diminta menyalami satu per satu tetua kampung. Ada yang menarik. Selain menyalami mereka satu per satu, Fransi Go diharuskan “cium Sabu”. Sesuatu yang wajib dilakukan, jika berkunjung dan bertemu sesama orang NTT. Termasuk di Pulau Sumba. Sebagai rasa hormat dan persaudaraan tentunya. Frans Go benar-benar memperlihatkan kesahajaannya. Tanpa pilih bulu, dia menyalami dan mencium hidung warga Kampung Padangi Rowa. Apakah dia sudah resmi diterima sebagai warga Kampung Padangi Rowa? Rupanya belum. Masih ada rangkaian adat yang harus dilalui. Bukan sebatas “cium Sabu”.

Frans Go lalu diminta naik ke sebuah rumah (rumah utama). Beberapa pakaiannya dilecuti. Lalu.., diganti pakaian adat. Tubuh Fransiscus Go dibalut kain tenun Sumba. Di kepalanya dipasangi Kapauta (Rowa), kain ikat kepala. Tim “FG” yang ikut dalam kunjungan tersebut, saling lirik lalu tersenyum. “Sudah seperti Umbu,” kata mereka. Setelah selesai “didandani” beberapa pemuda kampung, Fransiscus Go lalu keluar menampakkan diri. “Wow.., aura Gubernurnya mulai tampak,” guman sejumlah warga. Mereka terlihat sangat senang, kampungnya dikunjungi. “Kampung kami sudah lama ada. Tapi tidak pernah dikunjungi pejabat, termasuk Gubernur. Baru kali ini ada calon gubernur NTT yang berkunjung. Kami sangat senang bapak Frans Go mau berkunjung ke kampung kami,” ujar Yohan Katoda Watu, salah seorang anak raja di kampung itu.

Beberapa tokoh Kampung Adat Padangi Rowa yang ditemui Frans Go, diantaranya; Kuri Billi (Ama Lede), Bata Gawileko (Ama Tangu), Bulu Leling (Ama Loba) dan Lukas Lede Bore. Tersirat di wajah para tetua adat ini, rasa haru dan bangga, karena kampungnya mendapat kunjungan dan Frans Go dan tim. Kunjungan Fransiscus Go kian sakral, manakala ada dua ekor babi diarak masuk ke area pertemuan. Dan, Frans Go diminta menikam babi tersebut. Tapi dilakukan secara simbolis. Sambil menunggu daging babi dimasak, para tetua adat menerawang hati kedua babi yang tadi dibunuh. “Semuanya positif dan baik. Pak Fransiscus Go berhati baik. Apa yang dia rencanakan akan sukses. Dia pandai membawa diri dan bisa jadi pemimpin,” beber Rato Ama Tagu kepada RakyatNTT.com. “Saya sudah puluhan tahun menerawang hati babi atau ayam. Hati Pak Frans baik, tidak ada dendam dan amarah. Bagus kalo jadi pemimpin,” tambahnya.

Akhirnya, Fransiscus Go diterima sebagai warga Kampung Adat Padangi Rowa, setelah dipenghujung acara, pertemuan itu dibalut dalam suasana makan adat bersama. Benar-benar nikmat. Makan ala Sumba dengan menu daging sebesar kepalan tinju orang dewasa, sungguh tiada tara. “Doa kami untuk bapak Fransiscus Go, semoga semua rencana bisa berjalan dengan baik. Kami siap bekerja untuk bapak,” imbuh Yulius Djawamara dalam doanya.

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Feature Terbaru