Loading
Atraksi Barongsai menjadi atraksi wajib yang dipagelarkan di hari raya Imlek (Is
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Masih banyak orang yang merayakan suatu hari raya namun belum mengenal baik makna dan sejarah di balik perayaan hari raya tersebut. Hal demikian pun terjadi pada perayaan tahun baru Imlek yang dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa.
Jika demikian, apakah kamu tahu asal usul Tahun Baru Tiongkok atau sejarah Imlek yang selama ini kita rayakan? Karena Imlek bukan hanya sekedar mengenai kumpul keluarga, makan bersama maupun membagikan angpao saja.
Imlek atau Festivel Musim Semi di Tiongkok sudah dirayakan sejak abad ke 20. Hari raya ini dianggap sebagai hari raya yang paling penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi di negara tirai bambu tersebut.
Pada awalnya Imlek dirayakan berdasarkan kalender Bulan-Matahari. Kemudian, adanya adaptasi dengan kalender Barat di tahun 1912, warga Tionghoa ikut merayakan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru. Namun mereka tetap menganggap Imlek merupakan perayaan yang terbesar sepanjang tahun.
Kalender Tiongkok KunoKalender Tiongkok Kuno digunakan sebagai panduan bagi kehidupan beragama, dinasti dan sosial. Penanggalan ini dikatakan sudah ada sejak abad ke-14 SM ketika Dinasti Shang berkuasa.
Kalender ini merupakan bagian dari sejarah Imlek yang sangat kompleks. Parameternya diatur berdasarkan fase bergeraknya bulan dan matahari. Prinsip berlawanan seperti Yin & Yang juga dijadikan sebagai pedoman kalender ini seperti halnya pada zodiak Tiongkok atau shio.
Setiap tahun baru Imlek ditandai dengan karakteristik salah satu dari 12 shio yakni tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba, monyet, ayam, anjing dan babi.
Tahun Baru Tiongkok TradisionalPeriode tahun baru Tiongkok dimulai pada pertengahan bulan ke-12 dan berakhir pertengahan bulan pertama dengan mengikuti bulan purnama.
Seperti yang kamu ketahui, ada banyak sekali tradisi Imlek yang dilakukan saat perayaan, bahkan sebelum hari itu tiba. Tradisi itu pun secara turun-temurun diberikan kepada setiap generasi untuk dilakukan kembali.
Secara tradisional, bagi warga Tionghoa, tahun baru adalah festival atau perayaan yang paling penting. Semua orang merayakan tahun baru, kegiatan bisnis pun dihentikan agar para pelaku bisnis bisa berkumpul di rumah bersama keluarga.
Sebelum tahun baru tiba, warga Tionghoa biasanya akan membersihkan rumah untuk mengusir kesialan yang terjadi selama satu tahun. Membersihkan rumah juga berarti menenangkan para dewa yang akan turun dari surga untuk menghampiri manusia.
Pada saat tahun baru, terdapat ritual mempersembahkan makanan dan kertas (pengganti uang) untuk para dewa dan leluhur. Warga Tionghoa membuat gulungan kertas berisikan pesan keberuntungan untuk digantung pada pagar rumah dan menyalakan petasan untuk mengusir roh jahat.
Pada saat inilah orang dewasa akan memberikan uang (angpao) kepada anak-anak kecil. Selain tradisi-tradisi yang sudah disebutkan itu, masih banyak tradisi yang dilakukan sejak zaman nenek moyang kita. Semuanya dimaksudkan untuk membawa keberuntungan dan umur yang panjang untuk seluruh keluarga.
Di samping itu, hal yang paling penting dan wajib dilakukan saat Imlek adalah makan bersama keluarga. Pada malam tahun baru, seluruh keluarga besar akan berkumpul di ruang makan untuk menyantap makanan khas Imlek.
Dalam lima hari pertama tahun baru, tradisi juga mengajarkan untuk mengkonsumsi mie panjang yang melambangkan umur panjang. Kemudian pada hari ke-15 (hari terakhir perayaan tahun baru), pangsit berbentuk bulan penuh akan dibagikan sebagai bentuk kekeluargaan dan kesempurnaan.
Evolusi Hari Raya ImlekKetika kalender Barat tiba di negara Tiongkok bersama dengan misionaris Jesuit pada tahun 1582, sejarah Imlek yang baru pun dimulai. Kalender ini mulai digunakan oleh warga negara Tiongkok sejak tahun 1912 dan menyatakan bahwa tahun baru jatuh pada setiap tanggal 1 Januari.
Kemudian pada 1949, di bawah kepemerintahan Partai Komunis China, pimpinan Mao Zedong melarang perayaan tahun baru Tiongkok atau Imlek (tradisional) dan mengikuti kalender Barat karena perjanjiannya dengan pihak Barat. Namun di akhir abad 20, para pemimpin Tiongkok kembali menerima perayaan tahun baru Imlek.
Pada tahun 1996, pemerintah Tiongkok menetapkan waktu libur selama satu minggu untuk merayakan tahun baru Imlek yang kini disebut sebagai Festival Musim Semi.
Pada awal abad 21, banyak keluarga Tionghoa yang menghabiskan uang demi merayakan hari raya ini, baik untuk makanan dan tradisi lainnya. Mereka juga menghabiskan waktu untuk kumpul bersama keluarga besar. Walaupun perayaan ini sudah mengalami pengurangan nilai-nilai secara religi, akan tetapi warga Tionghoa tetap percaya pada zodiak mereka.
Sayangnya, perubahan mengenai sikap pada perayaan Imlek terjadi pada generasi muda. Pasalnya kini para pemuda pemudi Tionghoa lebih senang menghabiskan waktu untuk tidur, bermain internet, ataupun berkumpul dengan teman saat Imlek. Banyak juga yang tidak menyukai sajian khas Imlek.
Seiring waktu berjalan, perayaan Imlek saat ini hanya dianggap sebagai hari libur biasa, hanya dijadikan waktu untuk beristirahat dari pekerjaan. Walaupun demikin, ada beberapa fakta menarik mengenai perayaan tahun baru Imlek yang mungkin belum pernah kamu dengar dan perlu untuk diketahui. (Berbagai sumber)