Loading
Catatan tangan Presiden Prabowo Subianto disela-sela kunjungan kenegaraannya di London, Inggris, Selasa (20/1/2026). ANTARA/Instagram/@sekretariat.kabinet.
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Di tengah banjir pernyataan resmi yang kerap terdengar “aman” dan formal, Presiden RI Prabowo Subianto memilih cara yang tidak biasa untuk menyampaikan pesan diplomatiknya: catatan tangan.
Dalam rangkaian kunjungan kenegaraan di London, Selasa 20 Januari 2026, Prabowo menulis langsung komitmennya untuk meningkatkan dan memperkuat persahabatan serta kerja sama Indonesia dan Inggris. Catatan itu—yang diunggah oleh akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet—bukan sekadar seremonial. Ia terasa seperti kalimat pendek yang sengaja dibuat agar mudah diingat, mudah dikutip, dan sulit disalahpahami.
Kalimatnya tegas: Indonesia ingin hubungan yang lebih kuat dengan Inggris. Bukan basa-basi ala kunjungan luar negeri, melainkan sinyal bahwa kerja sama ini akan didorong menjadi sesuatu yang lebih konkret dan lebih strategis.
Baca juga:
Indonesia dan Inggris Sepakati Kolaborasi Lingkungan: Lindungi Alam, Lawan Kejahatan EkologisDiplomasi Simbolik: Sederhana, tapi Kuat
Ada sesuatu yang menarik dari keputusan “menulis dengan tangan”. Di era politik yang serba dikelola oleh tim komunikasi, gestur seperti ini terasa personal. Seolah Prabowo ingin menyampaikan: ini bukan sekadar agenda kementerian, ini kemauan politik kepala negara.
Baca juga:
World Peace Forum 2025: Jusuf Kalla dan Din Syamsuddin Serukan Spirit Damai dari Jakarta untuk DuniaDalam diplomasi, simbol sering kali sama pentingnya dengan isi pertemuan. Catatan tangan bisa dibaca sebagai strategi komunikasi: membangun kesan kehangatan, memperlihatkan komitmen personal, dan memberi narasi yang gampang dikemas ulang menjadi pesan publik.
Dari Kata-Kata ke Proyek: Maritim dan Perikanan Jadi Kunci
Namun pesan paling pentingnya justru ada pada konteks di belakang catatan itu. Dalam pertemuan bilateral dengan PM Inggris Keir Starmer, kedua negara membahas penguatan kerja sama strategis dan mendorong agenda sektor riil.
Salah satunya: rencana kerja sama maritim melalui penandatanganan nota kesepahaman pembangunan kapal penangkap ikan. Target besarnya bukan hanya ekonomi perikanan yang bertumbuh, tapi juga tata kelola kekayaan laut yang lebih kuat dan terukur.
Di titik ini, Inggris tak lagi hanya hadir sebagai mitra “seremoni”, melainkan calon partner untuk mengisi kebutuhan Indonesia yang sangat konkret: modernisasi armada dan penguatan industri maritim.
Pendidikan: Pintu Masuk Pengaruh Jangka Panjang
Yang tak kalah penting: sektor pendidikan. Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama dengan Russell Group—konsorsium 24 universitas terkemuka Inggris—untuk memperluas kolaborasi akademik dan meningkatkan akses pendidikan tinggi kelas dunia.
Di sinilah “nilai strategis” hubungan RI–Inggris menjadi makin terlihat. Pendidikan bukan sekadar beasiswa atau pertukaran pelajar. Ia adalah investasi jangka panjang: membangun SDM, memperluas jejaring riset, sekaligus membuka ruang inovasi yang berujung pada daya saing ekonomi.
Kalau kerja sama perikanan berbicara soal hasil yang terlihat, maka kerja sama pendidikan menyangkut warisan yang terasa puluhan tahun.
Lawatan yang Padat, Agenda yang Berlapis
Rangkaian pertemuan Prabowo di Inggris juga memperlihatkan pola diplomasi yang berlapis: bertemu PM Starmer di 10 Downing Street, bertemu delegasi pengusaha, hingga agenda dengan Russell Group di Lancaster House. Ini seperti menyusun “segitiga hubungan”: pemerintah–bisnis–akademisi.
Agenda berikutnya bahkan mencakup pertemuan dengan Raja Charles III pada Rabu, 21 Januari 2026 waktu setempat. Pertemuan simbolik ini akan mempertebal aspek kenegaraan, sekaligus menutup narasi lawatan dengan lapisan prestise diplomatik.
Catatan Tangan Itu bukan Penutup, tapi Pembuka
Bila dibaca sebagai opini, catatan tangan Prabowo sebenarnya bukan klimaks. Ia adalah pintu pembuka: semacam “kontrak moral” yang dibuat singkat agar publik bisa ikut mengawasi.
Pertanyaannya tinggal satu: setelah simbol dan MoU, seberapa cepat kerja sama ini turun ke hal yang nyata—dari kapal ikan yang benar-benar diproduksi, hingga pintu kolaborasi kampus top Inggris yang benar-benar terbuka lebar bagi anak-anak Indonesia?
Karena pada akhirnya, persahabatan antarnegara tidak diukur dari indahnya kalimat dalam catatan. Tetapi dari seberapa jauh kerja sama itu menyentuh ekonomi rakyat, membuka akses ilmu, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung global.