Loading
Gedung Juang dibangun pada tahun 1906-1910 dan 1912-1925. (Foto: Arsya Azikra)
BEKASI, ARAHKITA.COM - Bekasi yang dijuluki Kota Patriot, punya banyak histori dalam perjalanannya. Banyak peninggalan Sejarah sebagai bentuk perlawanan pada penjajah. Salah satunya adalah Gedung Juang Bekasi.
Gedung Juang dibangun pada tahun 1906-1910 dan 1912-1925. Gedung ini awalnya dimiliki oleh Khouw Tjien Kee, seorang bangsawan keturunan Tionghoa. Gedung ini pernah menjadi markas Kempetai pada masa pendudukan Jepang. Setelah itu, gedung ini diambil alih oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Gedung Juang Bekasi, yang dulunya merupakan markas perjuangan saat masa kemerdekaan, kini telah bertransformasi menjadi pusat kreativitas dan budaya bagi masyarakat setempat. Dengan renovasi yang mempertahankan arsitektur asli, gedung ini tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga tempat berkumpulnya komunitas kreatif.
Gedung ini terletak di Jalan Sultan Hasanudin Nomor 39, Tambun Selatan. Usai direnovasi, gedung ini dialihfungsikan menjadi Museum Bekasi dan bisa dikunjungi para wisatawan.
Sejak dibuka kembali untuk umum, Gedung Juang telah menyelenggarakan berbagai acara, mulai dari pameran seni hingga pertunjukan musik lokal. Masyarakat menyambut baik kehadiran gedung ini sebagai ruang bagi para seniman dan pelaku budaya untuk menampilkan karya mereka.
Di tengah kesibukan kota, Gedung Juang Bekasi tidak hanya menjadi situs bersejarah, tetapi juga tempat bagi kisah-kisah inspiratif masyarakat lokal. Salah satunya adalah Siti, seorang seniman muda yang menemukan jati dirinya di gedung bersejarah ini.
Siti, 25 tahun, adalah salah satu pendiri komunitas seni di Gedung Juang menceritakan bagaimana ia datang ke gedung ini saat berjuang untuk menemukan arah dalam hidupnya. “Sebelumnya, saya merasa kehilangan semangat. Namun, saat melihat berbagai acara seni di sini, saya merasa terinspirasi untuk berkarya,” tuturnya.
Dengan dukungan dari komunitas, Siti mulai mengadakan workshop seni dan pameran, yang menarik banyak anak muda untuk terlibat. “Kami ingin menunjukkan bahwa seni bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan perubahan,” tambahnya.
“Gedung ini telah mengubah hidup saya. Di sini, saya tidak hanya belajar tentang seni, tetapi juga tentang arti komunitas,” tutup Siti dengan penuh harapan. Gedung Juang Bekasi, dengan segala keindahannya, terus menginspirasi banyak orang untuk mengejar mimpi dan merayakan kekayaan budaya.
Banyak pengunjung mengaku menemukan semangat baru dan menjalin persahabatan di Gedung Juang. Gedung ini kini menjadi tempat berkumpulnya berbagai generasi, menciptakan ruang untuk berbagi ide dan pengalaman.
Pihak pengelola gedung berencana untuk mengadakan lebih banyak program edukatif dan workshop, dengan harapan dapat menarik lebih banyak pengunjung dan memberikan dampak positif bagi perkembangan seni dan budaya di Bekasi.
Dengan demikian, Gedung Juang Bekasi tidak hanya berdiri sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi dan kolaborasi dalam komunitas.
Laporan:
- Arsya Azikra
- Sheila Aulia Palma
- Maharani Savitri
- Grisselda Sekar Herdayani
- Gilberis Arya Reinhard