Jumat, 16 Januari 2026

Saat Iran Membara, Shirin Ebadi Mengetuk Pintu Dunia: Lindungi Demonstran!


 Saat Iran Membara, Shirin Ebadi Mengetuk Pintu Dunia: Lindungi Demonstran! Peraih Nobel Perdamaian 2003 Shirin Ebadi. (Foto: bbforpeace.org)

GLOBAL HARMONY | HARMONY LEADERS

ADA pemimpin yang hadir melalui jabatan. Ada pula pemimpin yang hadir melalui keberanian moral—mereka yang tetap bersuara ketika keadaan menuntut semua orang diam. Di tengah gelombang kekerasan yang mengguncang Iran, sosok itu kembali muncul ke permukaan: Shirin Ebadi.

Peraih Nobel Perdamaian 2003 tersebut menyerukan dunia internasional, khususnya Amerika Serikat, untuk bertindak lebih tegas guna menghentikan pembunuhan warga sipil di Iran. Dalam wawancara eksklusif dengan Deutsche Welle (DW), Ebadi menggambarkan kondisi di dalam Iran sudah melewati batas penindasan biasa.

“Apa yang sebenarnya terjadi adalah perang skala penuh di Iran,” kata Ebadi kepada DW.“Mereka membunuh warga sipil”

Dalam pernyataannya, Ebadi menegaskan bahwa situasi kini jauh lebih brutal dibanding gelombang protes besar pada 2022 yang dikenal lewat slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.” Menurut Ebadi, rezim saat ini menggunakan kekuatan yang sangat tidak seimbang terhadap masyarakat.

“Saat ini, pasukan keamanan berada di luar sana, di tengah masyarakat, menggunakan senjata kelas militer,” ujarnya. “Mereka membunuh warga sipil.”

Kekerasan yang disebut Ebadi tidak lagi terasa seperti “pembubaran massa”, melainkan semacam operasi yang menempatkan warga sebagai target. Bagi Ebadi, inilah alasan mengapa dunia tidak bisa menganggap tragedi tersebut sebagai urusan domestik semata.

Seruan pada AS: Putus Komunikasi Rezim, Lindungi Demonstran

Ebadi meyakini Amerika Serikat memiliki kapasitas untuk menekan kemampuan rezim menjalankan kekerasan massal—tanpa harus melakukan langkah yang membahayakan warga sipil. Dalam wawancara DW, ia menyebut AS dapat menggunakan “teknologi pengacau sinyal” untuk mengganggu komunikasi rezim dengan pasukan keamanan dan membatasi penyebaran propaganda.

Ia juga mengusulkan tindakan sangat terarah terhadap pemimpin tertinggi Iran dan komandan senior Garda Revolusi. Ebadi menyatakan operasi serupa pernah terjadi di Iran tanpa melukai warga sipil—menandakan bahwa langkah presisi, menurutnya, bukan sesuatu yang mustahil.

Unggahan Trump dan Janji “Bantuan Sedang dalam Perjalanan”

Pernyataan Ebadi muncul setelah unggahan daring Presiden AS Donald Trump yang mendorong warga Iran untuk “terus berdemonstrasi” serta menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”

Bagi Ebadi, dukungan moral tidak akan berarti banyak bila kekerasan tetap dibiarkan berlangsung. Ia menekankan bahwa demonstran memerlukan perlindungan nyata, bukan sekadar simpati.

“Kalau itu Bukan Perang, Lalu Apa?”

Ebadi menyebut kondisi di Iran sebagai “perang yang tidak proporsional.” Dalam wawancara itu, ia mempertanyakan istilah yang pantas untuk menggambarkan kekerasan yang terjadi begitu cepat dan luas.

“Ketika setidaknya 12.000 orang tewas dalam waktu kurang dari dua hari, apa yang seharusnya kita sebut itu, perdamaian dan ketenangan?” kata Ebadi, sembari mengutip angka korban yang belum bisa diverifikasi secara independen.

Pernyataan itu seolah ingin menegaskan satu hal: perdebatan angka sering kali menutupi inti tragedi. Sementara dunia berdebat, nyawa tetap melayang.

Lebih Keras dari Gelombang “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”

Ebadi membandingkan situasi saat ini dengan protes tahun 2022 yang dipicu kematian perempuan Kurdi Jina Mahsa Amini dalam tahanan polisi. Menurutnya, meski rezim saat itu juga menindas, level kekerasan sekarang jauh lebih ekstrem.

Ebadi menilai rezim kini meningkatkan kekerasan hingga tingkat yang belum pernah terjadi pada gelombang sebelumnya, baik dari segi intensitas maupun cara aparat memburu warga.

Shirin Ebadi: Pemimpin Nurani dari Iran

Dalam lanskap Global Harmony, Shirin Ebadi bukan sekadar tokoh politik—ia adalah simbol kepemimpinan nurani.

Ebadi pernah mencatat sejarah sebagai hakim perempuan pertama di Iran. Namun setelah Revolusi Islam 1979, perempuan disingkirkan dari posisi hakim. Kariernya runtuh bukan karena kompetensi, melainkan karena perubahan sistem yang menutup ruang bagi perempuan.

Ia kemudian menapaki jalan yang lebih berbahaya: menjadi pengacara hak asasi manusia, membela mereka yang tidak memiliki perlindungan—tahanan politik, korban kekerasan negara, perempuan, serta kelompok rentan lainnya. Pada 2001, Ebadi ikut mendirikan Defenders of Human Rights Center, yang menjadi salah satu pusat advokasi HAM penting di Iran.

Tahun 2003, dunia memberikan pengakuan lewat Nobel Perdamaian atas perjuangannya memperkuat demokrasi serta memperjuangkan hak perempuan dan anak. Namun penghargaan global itu juga membuat tekanan terhadap dirinya semakin besar. Sejak 2009, Ebadi hidup dalam pengasingan—tetapi suaranya terus hadir menembus batas negara.

Dunia Sedang Diuji

Shirin Ebadi membawa dunia pada pertanyaan sederhana namun menohok: seberapa banyak nyawa harus hilang agar dunia berhenti menunda tindakan?

Ia tidak memimpin dengan pasukan. Ia memimpin dengan keberanian untuk menyebut kebenaran secara utuh, bahkan ketika konsekuensinya berat. Di tengah asap konflik dan deru propaganda, Ebadi kembali menegaskan bahwa perlindungan terhadap warga sipil bukan pilihan politik—melainkan kewajiban kemanusiaan.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru