Selasa, 27 Januari 2026

Tiga Orang Didakwa terkait Kematian Liam Payne di Argentina


 Tiga Orang Didakwa terkait Kematian Liam Payne di Argentina Tiga orang didakwa terkait kematian Liam Payne di Argentina. (Foto BBC)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tiga orang di Argentina telah didakwa terkait kematian Liam Payne mantan personel boy band One Direction, karena memasok narkotika dan menelantarkan seseorang yang kemudian menyebabkan kematian.

Jaksa penuntut dalam sebuah pernyataan, Kamis, dilansir The Guardian, mengatakan uji toksikologi menemukan bahwa saat meninggal, Payne memiliki jejak alkohol, kokain, dan obat antidepresan yang diresepkan di tubuhnya.

Mantan bintang One Direction itu jatuh hingga tewas pada tanggal 16 Oktober dari balkon lantai tiga hotel di lingkungan Palermo, Buenos Aires.

Para tamu saat itu mengatakan mendengar suara gedoran dan pintu dibanting sepanjang sore, sebelum mendengar teriakan keras. Staf telah menghubungi layanan darurat untuk melaporkan seorang tamu yang tampaknya ´kewalahan´ menangani dampak narkoba dan alkohol dan merusak sebuah kamar. 

Polisi menyatakan Payne meninggal di tempat kejadian, karena menderita cedera yang sangat serius di dasar tengkorak. Korps medis forensik kemudian menyimpulkan bahwa kematian Payne disebabkan oleh banyak trauma dan perdarahan internal dan eksternal  akibat terjatuh.

Salah satu dari tiga terdakwa dilaporkan mengunjungi Payne secara teratur selama dua minggu ia tinggal di kota itu. Mereka telah didakwa dengan tuduhan menelantarkan seseorang yang diikuti dengan kematian, menfasilitasi narkotika, dan diancam  hukuman antara lima hingga 15 tahun penjara.

Orang kedua, yang merupakan karyawan hotel, berperan sebagai orang yang bertanggung jawab atas dua persediaan kokain, kata jaksa penuntut. Orang ketiga juga telah dituduh memasok narkotika pada 14 Oktober.

Jaksa mengatakan bahwa petugas telah mengumpulkan kesaksian, dan melakukan sembilan penggerebekan di rumah-rumah di seluruh provinsi Buenos Aires, yang mengakibatkan penyitaan beberapa perangkat pribadi. Selain itu, lebih dari 800 jam rekaman video juga telah dianalisis.

Dalam pernyataan mereka, jaksa juga mengesampingkan kemungkinan bunuh diri, dengan mengatakan: "Kurangnya refleks pertahanan diri atau mempertahankan diri saat terjatuh, bersama dengan data relevan lainnya dari konsumsi alkoholnya, memungkinkan kami untuk menyimpulkan bahwa Liam Payne tidak sepenuhnya sadar atau mengalami penurunan atau kehilangan kesadaran yang nyata pada saat terjatuh."

"Intervensi fisik oleh pihak ketiga juga dikesampingkan sebagai kemungkinan,¨ ujar jaksa tersebut.

Payne, yang lahir di Wolverhampton, Inggris, menjadi bagian dari One Direction setelah tampil di acara realitas Inggris The X Factor saat remaja. Merupakan salah satu boy band terbesar sepanjang masa, telah menjual lebih dari 70 juta rekaman di seluruh dunia, sebelum vakum untuk waktu yang tidak ditentukan pada tahun 2016.

Payne sebelumnya telah terbuka tentang perjuangannya dengan kesehatan mentalnya, dengan mengatakan bahwa selama puncak ketenaran band tersebut, ia mulai menggunakan alkohol dan obat epilepsi sebagai penstabil suasana hati untuk melawan "pasang surut yang tidak menentu" yang dialaminya.

Ayah Payne, Geoff, pergi ke Buenos Aires setelah kematian putranya, bertemu dengan para penggemar dan mengunjungi Pemakaman Inggris tempat jenazah putranya disimpan. Awal minggu ini, jenazah Payne dipulangkan ke Inggris.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Hiburan Terbaru