Loading
Arsip - Sanae Takaichi (kanan) membungkuk kepada Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba (kedua kiri) usai memenangkan pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, di T
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Jepang tengah bersiap memasuki babak baru dalam panggung politiknya. Parlemen negeri Sakura dijadwalkan menggelar pemungutan suara untuk memilih perdana menteri (PM) baru pada Selasa mendatang (21 Oktober 2025), setelah disepakati oleh partai-partai berkuasa dan oposisi pada Jumat (17/10/2025).
Pemilihan ini digelar menyusul pengunduran diri Shigeru Ishiba, yang memutuskan mundur dari jabatan PM pada 7 September lalu. Keputusan itu diambil setelah koalisinya mencatat hasil buruk dalam dua pemilihan besar: Majelis Rendah (Oktober 2024) dan Majelis Tinggi (Juli 2025).
Kini, seluruh mata tertuju pada Sanae Takaichi, politisi konservatif yang baru saja mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) — partai terbesar di Jepang. Namun, jalan Takaichi menuju kursi PM tidak semulus yang dibayangkan.
Koalisi Goyah, Dukungan Menyusut
Tantangan utama Takaichi muncul setelah partai Komeito menarik diri dari aliansi LDP pekan lalu. Langkah itu langsung mengguncang fondasi kekuasaan, membuat LDP kehilangan mayoritas di parlemen.
Dengan hanya 196 kursi di Majelis Rendah dari total 465 kursi, Takaichi butuh minimal 233 suara untuk memastikan kemenangannya. Sementara sisanya kini dikuasai partai-partai oposisi:
Negosiasi Politik yang Rumit
Untuk menutup celah suara, LDP berupaya membangun koalisi baru dengan Partai Inovasi Jepang (JIP). Namun, negosiasi tersebut tampaknya tidak berjalan mudah.
Pemimpin JIP, Hirofumi Yoshimura, menegaskan bahwa partainya tidak akan berkoalisi dengan LDP kecuali ada komitmen nyata untuk mengurangi jumlah kursi parlemen sebelum akhir tahun, sebagaimana dikutip dari Kyodo News.
Di sisi lain, blok oposisi juga sedang berusaha membentuk koalisi tandingan. Partai Demokrat Konstitusional Jepang disebut tengah menggalang dukungan agar bisa mengajukan satu calon bersama untuk menantang Takaichi dalam pemungutan suara nanti.
Perempuan Pertama di Puncak LDP
Sanae Takaichi bukan nama baru di politik Jepang. Ia dikenal sebagai sekutu dekat mendiang Shinzo Abe, mantan perdana menteri yang berpengaruh besar dalam sejarah politik modern Jepang.
Takaichi dikenal dengan pandangan konservatif garis keras dan sikap nasionalisnya yang kuat. Meski langkahnya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin LDP diapresiasi banyak pihak, jalan menuju kursi perdana menteri masih dipenuhi ketidakpastian.
Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya merajut koalisi politik dan meyakinkan parlemen bahwa kepemimpinannya bisa membawa stabilitas bagi Jepang, yang kini tengah menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik di kawasan Asia Timur dikutip Antara.
Pemilihan perdana menteri Jepang kali ini bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan ujian bagi masa depan politik LDP dan momentum penting bagi Sanae Takaichi untuk membuktikan dirinya sebagai pemimpin perempuan tangguh di kancah politik yang didominasi pria.
Apakah Jepang akan menyambut perdana menteri perempuan pertama dari LDP? Jawabannya akan ditentukan dalam pemungutan suara Selasa depan.