Selasa, 13 Januari 2026

Demo Iran Memanas, Menlu Ungkap Rekaman Instruksi dari Luar Negeri ke Perusuh


 Demo Iran Memanas, Menlu Ungkap Rekaman Instruksi dari Luar Negeri ke Perusuh Arsip - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. (ANTARA/Xinhua/Shadati/aa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Iran kembali melontarkan tudingan serius terkait gelombang demonstrasi yang terjadi sejak akhir Desember 2025. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut ada instruksi dari pihak luar negeri yang mendorong demonstran untuk melakukan tindakan kekerasan, termasuk menembak polisi dan menyerang warga sipil.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi pada Senin (12/1/2026). Ia menegaskan bahwa otoritas Iran mengantongi rekaman pesan suara yang diklaim berasal dari luar Iran dan ditujukan kepada kelompok yang ia sebut sebagai perusuh.

“Kami punya rekaman pesan suara yang dikirim dari luar negeri kepada teroris (perusuh): jika ada polisi, tembak polisi. Jika tidak, serang warga sipil,” ujar Araghchi, dikutip dari kantor berita SNN Iran.

Menurut Araghchi, isi pesan tersebut tidak hanya mendorong kekerasan, tetapi juga menekankan bahwa semakin banyak korban dan pertumpahan darah, semakin besar tujuan yang ingin dicapai pihak pengirim instruksi.

Protes Dipicu Tekanan Ekonomi dan Nilai Tukar

Aksi protes di Iran mulai pecah akhir Desember 2025. Pemicu utamanya adalah kekhawatiran publik terhadap inflasi, yang semakin berat setelah nilai tukar rial melemah.

Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat harga barang—baik di tingkat grosir maupun eceran—ikut terdorong naik. Demonstrasi pun bermunculan di berbagai kota, menuntut pemerintah mengambil langkah tegas untuk menahan gejolak nilai mata uang nasional dan lonjakan biaya hidup.

Situasi ini bahkan berdampak pada posisi elite keuangan negara. Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, dilaporkan mengundurkan diri di tengah tekanan publik dan meningkatnya ketidakpuasan dilansir Antara.

Aksi Meningkat Usai Seruan Reza Pahlavi

Gelombang unjuk rasa disebut makin meningkat setelah 8 Januari 2026, menyusul seruan dari Reza Pahlavi—putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979.Sejumlah laporan menyebut demonstrasi menjadi lebih besar, diiringi slogan-slogan bernada anti-pemerintah. Di beberapa wilayah, aksi tersebut berubah menjadi bentrokan dengan kepolisian.

Di tengah ketegangan itu, muncul pula kabar adanya korban jiwa, baik dari kalangan aparat maupun demonstran, meski otoritas belum merinci angka pasti secara terbuka.

Internet Diblokir, Pemerintah Klaim Demi Tekan Pengaruh Asing

Seiring meningkatnya eskalasi, pemerintah Iran mengambil langkah tambahan: membatasi akses internet. Otoritas setempat menyatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk meminimalkan pengaruh asing terhadap pergerakan massa.

Dalam pertemuan dengan para duta besar asing pada hari yang sama, Araghchi menyebut aparat keamanan sudah berhasil mengendalikan kondisi di lapangan.“Situasi terkendali,” kata Araghchi, sembari menyampaikan bahwa pembatasan internet masih akan diberlakukan sampai kondisi benar-benar kembali kondusif.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru