Loading
Arsip - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Tokyo. (ANTARA/Anadolu/py)
BRUSSELS, ARAHKITA.COM — Kawasan Arktik kembali menjadi sorotan. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengatakan negara-negara sekutu kini sedang merumuskan langkah lanjutan untuk menjaga keamanan wilayah tersebut. Alasan utamanya: jalur laut yang kian terbuka membuat Arktik berpotensi makin ramai, dan itu berarti peluang meningkatnya aktivitas Rusia serta China.
“Semua sekutu sepakat Arktik itu penting—dan keamanan Arktik juga penting. Karena saat jalur laut terbuka, ada risiko Rusia dan China menjadi lebih aktif,” kata Rutte kepada wartawan, Senin (12/1/2026).
Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic di Zagreb.
Arktik dan Peta Kekuatan NATO
Menurut Rutte, terdapat delapan negara Arktik, dan tujuh di antaranya adalah anggota NATO: Amerika Serikat, Kanada, Denmark, Islandia, Norwegia, Finlandia, dan Swedia. Rusia menjadi satu-satunya negara Arktik yang berada di luar aliansi.
Sementara itu, China meski tidak punya wilayah geografis di Arktik, dinilai makin agresif menunjukkan minat dan aktivitasnya di kawasan strategis tersebut.“Saat ini China hampir seperti semacam negara Arktik—bukan secara geografis, tetapi dari aktivitas dan minat mereka di wilayah itu,” ujar Rutte.
Dari Diskusi Internal ke Aksi Lapangan
Rutte menyebut NATO sebelumnya sudah menyelesaikan diskusi internal pada tahun lalu mengenai cara memperkuat kerja sama antaranggota yang berada di kawasan Arktik. Sekarang, fokusnya masuk tahap berikutnya: mengeksekusi tindak lanjut yang praktis.
Artinya, NATO tidak hanya berhenti pada pembahasan dan kesepakatan prinsip, tetapi mulai merancang langkah nyata—baik secara kolektif sebagai aliansi maupun lewat inisiatif masing-masing negara sekutu—agar keamanan Arktik tetap menjadi prioritas bersama.
Rutte menambahkan, NATO mulai lebih intens terlibat dalam isu keamanan Arktik sejak 2025, atas permintaan tujuh negara anggotanya yang memang memiliki posisi strategis di wilayah tersebut. Ia menyebut Arktik sebagai “bagian penting dari wilayah NATO.”
Rencana Peningkatan Kehadiran di Greenland
Isu Arktik juga ikut bersinggungan dengan laporan rencana kelompok negara Eropa—dipimpin Inggris dan Jerman—yang ingin memperluas kehadiran militernya di Greenland.
“Anda sudah melihat beberapa pengumuman dari Inggris dan Jerman. Saat ini kami bekerja sama untuk melihat bagaimana, sebagai aliansi, kami bisa membangun langkah selanjutnya,” kata Rutte.
Soal AS: Rutte Puji Trump
Di sisi lain, Rutte juga menyinggung hubungan NATO dengan Amerika Serikat. Ia menepis anggapan adanya potensi krisis internal di tubuh aliansi, dan bahkan memuji Presiden AS Donald Trump karena terus mendorong negara-negara anggota meningkatkan belanja pertahanan.
“Saya percaya Donald Trump melakukan hal yang benar untuk NATO dengan mendorong kita semua meningkatkan pengeluaran agar setara dengan apa yang dihabiskan AS,” kata Rutte.
Menurutnya, pujian itu bukan basa-basi, melainkan didasarkan pada fakta bahwa dorongan peningkatan anggaran pertahanan memang membuat NATO lebih kuat.
Kroasia: Greenland Harus Dibahas Lewat Dialog
Sementara itu, Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic menegaskan bahwa dialog tetap menjadi kunci untuk meredakan ketegangan terkait status Greenland.
“Saya yakin dengan diskusi, kita dapat menemukan solusi yang menjamin keamanan bagi AS, dan memastikan Greenland tetap menjadi bagian dari Denmark,” ujarnya dilansir Antara.
Plenkovic menilai dialog berkualitas tinggi sangat penting bukan hanya untuk stabilitas kawasan, tetapi juga demi kepentingan keamanan global.