Loading
Arsip - Simpanse betina bernama Ai diabadikan pada September 2018. (Kyodo/as)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Seekor simpanse betina legendaris bernama Ai, yang dikenal luas karena kemampuannya mengenali huruf, angka, dan simbol, dilaporkan meninggal dunia di Jepang pada usia 49 tahun akibat usia lanjut dan kegagalan multi-organ.
Kabar duka ini disampaikan Pusat Studi Asal-Usul Evolusi Perilaku Manusia Universitas Kyoto yang berlokasi di Inuyama, Prefektur Aichi.
“Ai meninggal dunia saat berada dalam pemantauan kesehatan intensif. Penyebabnya terkait usia lanjut dan kegagalan fungsi beberapa organ,” kata perwakilan pusat penelitian tersebut dalam pernyataan resminya, Sabtu.
Dari Afrika ke Jepang
Ai lahir di Afrika Barat pada 1976 dan tiba di Jepang setahun kemudian. Sejak usia 18 bulan, ia sudah diperkenalkan pada pembelajaran bahasa menggunakan berbagai media, termasuk komputer, menjadikannya salah satu simpanse paling terkenal dalam studi kognitif primata.
Kemampuan literasi Ai tergolong luar biasa. Ia mampu mengenali dan menunjuk aksara kanji, termasuk karakter yang berarti “hijau” setelah diperlihatkan gambar berwarna hijau. Kisah kecerdasannya bahkan pernah dimuat dalam jurnal ilmiah Nature pada 1985, yang membuat namanya dikenal di dunia sains internasional.
“Ai menunjukkan kemampuan kognitif yang melampaui ekspektasi saat itu dan membuka pemahaman baru tentang bahasa pada primata,” tulis Nature dalam laporannya, seperti yang dikutip dari Antara.
Simpanse yang Penuh Kejutan
Selain cerdas, Ai juga dikenal penuh kejutan. Pada 1989, ia sempat melarikan diri dari kandangnya bersama seekor simpanse lain. Para peneliti menduga Ai membuka gembok kandang menggunakan kunci, sebuah kejadian yang semakin menegaskan kecerdasannya.
Pada tahun 2000, Ai melahirkan seekor anak jantan bernama Ayumu. Ayumu kemudian menjadi subjek penelitian penting terkait alih pengetahuan antara induk dan anak, khususnya dalam kemampuan memori dan pengenalan simbol.
Kepergian Ai meninggalkan warisan besar dalam dunia penelitian perilaku dan kognisi primata, sekaligus memperkaya pemahaman manusia tentang evolusi bahasa.