Loading
Wali Kota Yamanaka dituduh oleh para pejabat melakukan pelecehan di tempat kerja. (Anadolu via Getty Images)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Kontroversi besar mengguncang pemerintahan kota Yokohama, Jepang, setelah Wali Kota Takeharu Yamanaka dituding melontarkan ucapan merendahkan kepada staf dan pejabat di lingkungan balai kota. Di tengah tekanan publik, Yamanaka akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah sebelumnya sempat membantah.
Sorotan ini mencuat usai Kepala Sumber Daya Manusia (SDM) Kota Yokohama, Jun Kubota, menyampaikan tuduhan secara terbuka dalam konferensi pers. Menurut Kubota, Yamanaka berulang kali memakai kata-kata kasar yang dapat dikategorikan sebagai pelecehan di tempat kerja.
Kubota menyebut wali kota pernah menggunakan kata-kata seperti “idiot” hingga “sampah manusia” ketika berbicara kepada pejabat kota, termasuk dirinya sendiri. Ia juga menuduh Yamanaka sering memanggil staf dengan istilah seperti “tidak berguna”, “bodoh”, dan “berkualitas rendah”.
Di Jepang, peristiwa seperti ini tergolong langka. Seorang pejabat kota yang masih aktif menjabat jarang sekali menyampaikan tuduhan terbuka terhadap wali kota yang juga masih menjabat—apalagi sambil menuntut permintaan maaf dan penyelidikan resmi.
Tuduhan Makin Serius: Komentar Fisik hingga Ancaman “Seppuku”
Selain kata-kata kasar, Kubota turut mengungkap dugaan perilaku lain yang dinilai melecehkan. Yamanaka dituduh pernah mengomentari penampilan rekan kerja, bahkan menyamakan beberapa pejabat dengan hewan.
Yang paling membuat publik terkejut, Kubota juga menuduh wali kota pernah melontarkan kalimat ekstrem: meminta dirinya “melakukan seppuku” bila gagal mendapatkan tawaran penyelenggaraan konferensi internasional. Seppuku sendiri dikenal sebagai ritual bunuh diri tradisional Jepang yang dilakukan dengan cara mengakhiri hidup secara tragis.
Kubota menilai tindakan itu bukan sekadar emosi sesaat, melainkan pola komunikasi yang berulang dan menekan psikologis staf. Karena itu, ia mendesak agar dilakukan penyelidikan dan meminta wali kota memberi permintaan maaf yang jelas.
Dari Bantahan, hingga Akhirnya Mengakui Sebagian Ucapan
Pada awalnya, Yamanaka menolak tuduhan tersebut dan bahkan mengunggah pernyataan bantahan melalui situs web pribadinya. Namun situasi berubah cepat. Sehari setelahnya, ia tampil terbuka dan mengakui sebagian ucapan yang disebut Kubota.
“Saya ingin dengan tulus meminta maaf karena telah memberikan beban psikologis kepada direktur personalia,” ujar Yamanaka dalam pernyataannya. Ia mengakui pernah melontarkan kata-kata seperti “idiot” dan “sampah manusia”.
Yamanaka berdalih ucapannya keluar dalam konteks diskusi penilaian kinerja dan evaluasi personel. Meski demikian, ia mengaku sedang merenungkan sikapnya dan berjanji akan lebih berhati-hati.
“Saya akan lebih berhati-hati dengan kata-kata dan perilaku saya,” tambahnya.
Namun, Yamanaka tetap membantah tuduhan lain, termasuk soal menghina penampilan staf atau menyamakan rekan kerja dengan hewan.
Kubota: “Saya Tidak Bisa Menerima Permintaan Maaf Itu”
Permintaan maaf tersebut rupanya belum meredakan konflik. Kubota menyatakan wali kota belum mengakui seluruh komentar yang menurutnya sudah terjadi. Ia bahkan menyebut permintaan maaf itu tidak cukup.
“Wali kota tidak mengerti apa-apa. Saya tidak bisa menerima itu sebagai permintaan maaf. Saya ingin dia berubah,” tegas Kubota dilaporkan bbc.com.
Di sisi lain, Yamanaka menyebut opsi penyelidikan sedang dipertimbangkan di bawah pengawasan wakil wali kota. Ia juga menyatakan siap bekerja sama bila penyelidikan resmi benar-benar dibentuk.
Kini publik menunggu: apakah kasus ini akan berhenti pada permintaan maaf, atau menjadi pintu masuk evaluasi serius soal budaya kerja dan praktik “workplace harassment” di pemerintahan lokal Jepang.