Kamis, 29 Januari 2026

Armada AS Menuju Iran: Trump Pertegas Tekanan Diplomasi dan Ancaman Militer


 Armada AS Menuju Iran: Trump Pertegas Tekanan Diplomasi dan Ancaman Militer Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media selama pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Ruang Timur Gedung Putih pada 9 Januari 2026 di Washington DC. (Foto: Getty Images)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah mengumumkan bahwa sebuah armada militer besar tengah bergerak menuju wilayah Iran — dalam upaya untuk memaksa Teheran kembali berdiskusi dengan Washington. 

Dalam unggahan panjang di platform media sosialnya, Trump menekankan bahwa kapal-kapal perang itu bergerak “dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan besar,” dan menegaskan harapannya agar Iran segera duduk di meja perundingan untuk merumuskan kesepakatan baru yang adil, seimbang, dan khususnya tanpa senjata nuklir. 

Trump menyebut armada ini lebih besar daripada yang pernah dikirim sebelumnya ke Venezuela, serta siap untuk “menyelesaikan misinya dengan cepat — bahkan dengan kekerasan jika diperlukan.” Pernyataan itu sekaligus menghidupkan kembali retorika kerasnya tentang kemungkinan intervensi militer jika Teheran terus menolak dialog. 

“Kita berharap Iran akan cepat ‘datang ke meja perundingan’ dan merundingkan kesepakatan yang baik bagi semua pihak. Waktu hampir habis — ini benar-benar sangat penting!” katanya, sambil mengulangi ancaman bahwa jika Iran tak kooperatif, tindakan Amerika di masa depan bisa jauh lebih keras daripada operasi sebelumnya. 

Deklarasi Trump muncul di tengah ketegangan yang makin tinggi antara Washington dan Tehran. Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak meminta negosiasi dengan AS dan bahwa pembicaraan semata tidak bisa terjadi di bawah tekanan dan ancaman perang. Perwakilan Iran mengatakan bahwa kontak langsung dengan utusan AS belum berlangsung dan dorongan dialog hanya mungkin jika ada itikad saling menghormati dilansir Antara.

Kondisi di lapangan turut memperparah suasana: gelombang demonstrasi besar-besaran akibat masalah ekonomi dalam negeri Iran telah berubah menjadi bentrok berkepanjangan, dan sejumlah negara di kawasan serta mediator internasional memperingatkan agar kedua pihak menahan diri demi mencegah eskalasi konflik berskala luas. 

Sekalipun Trump membuka pintu diplomasi, prospek negosiasi jangka pendek masih tampak suram. Kedua belah pihak saling berhitung — satu sisi dengan kekuatan militer yang diposisikan, dan di sisi lain dengan sikap yang tegas untuk tidak tunduk pada tekanan eksternal.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru