Blokade Selat Hormuz: Negara-Negara Asia Ini Paling Terpukul


 Blokade Selat Hormuz: Negara-Negara Asia Ini Paling Terpukul Kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz – jalur strategis yang menangani seperlima pasokan energi global. (Foto: @iefimerida.gr)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Kali ini, sorotan tertuju pada Selat Hormuz—jalur sempit namun krusial yang menjadi nadi perdagangan energi dunia. Ancaman penutupan oleh Iran bukan sekadar isu geopolitik, tetapi potensi krisis yang bisa menghantam banyak negara, terutama di Asia.

Seorang komandan senior Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan setiap kapal yang melintas akan menjadi sasaran. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran global. Mengapa? Karena selat yang berada di antara Oman dan Iran itu dilalui sekitar 13 juta barel minyak per hari pada 2025—setara 31% dari total pengiriman minyak mentah dunia via laut menurut Kpler.

Pasar pun bereaksi cepat. Harga minyak Brent sudah melonjak sekitar 10% sejak konflik memanas, menyentuh kisaran 80 dolar AS per barel. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga bisa menembus 100 dolar AS jika penutupan berlangsung lama.

Di Asia, dampaknya terasa paling nyata. Seperti dikutip dari CNBC, analis Nomura menyebut Thailand, India, Korea Selatan, dan Filipina sebagai negara yang paling rentan akibat tingginya ketergantungan pada impor energi. Sebaliknya, Malaysia justru berpotensi diuntungkan karena berstatus sebagai pengekspor energi.

Asia Selatan: Risiko Gangguan Nyata

Negara-negara Asia Selatan berada di garis depan dampak krisis ini, terutama dalam hal pasokan gas alam cair (LNG).

Data Kpler menunjukkan Qatar dan Uni Emirat Arab menyumbang:

99% impor LNG Pakistan

72% impor LNG Bangladesh

53% impor LNG India

Artinya, jika jalur Hormuz terganggu, suplai energi mereka bisa langsung tersendat. Pakistan dan Bangladesh memiliki kapasitas penyimpanan yang terbatas. Bangladesh bahkan sudah mengalami defisit gas struktural lebih dari 1.300 juta kaki kubik per hari menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis.

India menghadapi tekanan ganda. Lebih dari setengah impor LNG-nya terkait dengan kawasan Teluk dan sebagian besar kontraknya mengikuti harga Brent. Jika harga minyak naik, otomatis biaya LNG ikut melonjak. Ditambah lagi, sekitar 60% impor minyak India berasal dari Timur Tengah. Kombinasi ini berpotensi menekan neraca transaksi berjalan negara tersebut.

China: Terpapar Besar, Tapi Punya Bantalan

China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia dan membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran. Sekitar 40% impor minyaknya melewati Selat Hormuz, dan 30% impor LNG berasal dari Qatar serta UEA.

Namun, China memiliki cadangan strategis yang relatif memadai. Persediaan LNG mereka per akhir Februari mencapai 7,6 juta ton. Ini memberi bantalan jangka pendek jika terjadi gangguan.

Meski demikian, jika krisis berkepanjangan, China harus berebut pasokan dari kawasan Atlantik. Situasi ini bisa memperketat pasar Asia-Pasifik dan mendorong persaingan harga yang lebih tinggi.

Jepang & Korea Selatan: Sensitif terhadap Harga

Jepang dan Korea Selatan juga sangat bergantung pada energi Timur Tengah. Sekitar 75% impor minyak Jepang dan 70% impor minyak Korea Selatan berasal dari kawasan tersebut.

Untuk LNG, ketergantungannya lebih rendah dibanding Asia Selatan. Korea Selatan memperoleh 14% LNG dari Qatar dan UEA, sementara Jepang sekitar 6%.

Namun masalah utamanya bukan hanya pasokan, melainkan harga. Ekonomi dengan ketergantungan impor energi tinggi sangat sensitif terhadap lonjakan harga. Cadangan LNG Jepang sekitar 4,4 juta ton dan Korea 3,5 juta ton—cukup untuk 2–4 minggu dalam kondisi stabil.

Asia Tenggara: Inflasi Mengintai

Bagi sebagian besar negara Asia Tenggara, ancaman terbesar bukanlah kekurangan fisik energi, melainkan lonjakan harga.Thailand menjadi salah satu yang paling rentan. Impor minyak bersihnya mencapai 4,7% dari PDB. Setiap kenaikan harga minyak 10% bisa memperburuk neraca transaksi berjalan hingga 0,5 poin persentase PDB.

Negara-negara yang bergantung pada pembelian LNG di pasar spot juga akan menghadapi biaya pengganti yang lebih mahal, terutama jika Asia harus bersaing dengan Eropa untuk mendapatkan pasokan dari Atlantik.

Dunia Menahan Napas

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air sempit di peta. Ia adalah urat nadi energi global. Jika benar-benar ditutup dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya pada harga bensin, tetapi bisa menjalar ke inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas keuangan banyak negara.

Bagi Asia—yang sebagian besar masih sangat bergantung pada impor energi—krisis ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya diversifikasi sumber energi dan ketahanan pasokan jangka panjang.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru