Arsip - Rudal melintas di atas Yerusalem dalam serangan yang diluncurkan Iran ke Israel (13/6/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Iran untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik Haj Qasem dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel. Informasi ini disampaikan kantor berita Fars, mengutip pernyataan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Selasa (17/3/2026).
IRGC menyebut rudal tersebut digunakan dalam rangkaian operasi militer terbaru, termasuk fase ke-59 operasi bertajuk “True Promise 4”. Operasi ini menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta wilayah Kurdistan Irak.
Selain itu, Iran juga melaporkan serangan ke sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh.
Menurut laporan Fars, penggunaan Haj Qasem dalam operasi ini menjadi yang pertama kalinya dalam konflik yang tengah berlangsung saat ini. Rudal tersebut sebelumnya diketahui pernah digunakan dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025.
Haj Qasem merupakan rudal balistik taktis berbahan bakar padat yang diperkenalkan Iran pada 2020. Rudal ini diklaim memiliki jangkauan hingga sekitar 1.400 kilometer, menjadikannya salah satu sistem senjata strategis milik Iran.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik setelah operasi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Iran menyebut serangan tersebut menewaskan Ali Khamenei serta ratusan warga sipil, termasuk pelajar.
Iran melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 17.000 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Baca juga:
ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal TotalDi sisi lain, Amerika Serikat dan Israel awalnya menyatakan operasi tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, belakangan disebutkan bahwa tujuan operasi juga mencakup upaya perubahan rezim di negara tersebut.
Konflik yang terus meningkat ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, dengan potensi dampak luas terhadap stabilitas regional dan global.