Raksasa teknologi Amerika Serikat Nvidia. ANTARA/Anadolu/py/am.
KOREA SELATAN, ARAHKITA.COM – Korea Selatan semakin serius memperkuat posisinya dalam persaingan global di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Negara tersebut mempercepat pembangunan infrastruktur AI nasional melalui kolaborasi tiga perusahaan besar, yakni NAVER, NVIDIA, dan Brookfield.
Berdasarkan laporan TheTechBuzz pada Sabtu (25/7/2026), ketiga perusahaan sepakat meningkatkan kapasitas proyek sovereign AI factory atau pabrik AI berdaulat menjadi 200 megawatt (MW). Angka ini melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding rencana awal sebesar 55 MW yang baru diumumkan sekitar sebulan lalu.
Tak hanya itu, NAVER juga memasang target jangka panjang yang jauh lebih ambisius, yakni membangun kapasitas hingga 1 gigawatt (GW). Jika target tersebut terwujud, proyek ini akan menjadi salah satu infrastruktur AI terbesar di luar perusahaan penyedia layanan cloud raksasa asal Amerika Serikat.
Permintaan AI Melonjak Tajam
Keputusan menaikkan kapasitas proyek menunjukkan bahwa kebutuhan komputasi AI di Korea Selatan tumbuh jauh lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
Sebagai ilustrasi, pusat komputasi berkapasitas 200 MW mampu mengoperasikan puluhan ribu GPU generasi terbaru milik NVIDIA. Infrastruktur sebesar itu dapat digunakan untuk melatih model AI berskala besar sekaligus melayani jutaan permintaan pengguna setiap hari.
Brookfield Perkuat Pendanaan
Baca juga:
Singapura Gandeng China Perkuat Transisi Hijau, AI, hingga Solusi untuk Masyarakat LansiaProyek strategis ini juga mendapat dukungan dari Brookfield, perusahaan investasi dan pengelola aset asal Kanada yang memiliki pengalaman membiayai berbagai proyek infrastruktur global, termasuk pusat data AI.
Masuknya Brookfield menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap sektor infrastruktur AI. Kini, pusat data AI dipandang sebagai aset strategis yang nilainya semakin penting bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap layanan cloud asing.
Gunakan Platform AI Milik NVIDIA
Dalam proyek tersebut, NVIDIA akan menyediakan teknologi melalui platform NVIDIA DSX AI Factory. Platform ini mengintegrasikan GPU, jaringan berkecepatan tinggi, perangkat lunak, hingga sistem manajemen komputasi yang dirancang untuk melatih maupun menjalankan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) dan berbagai aplikasi AI modern.
Teknologi ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan layanan AI nasional Korea Selatan.
NAVER Ingin Mandiri dalam Pengembangan AI
Sebagai perusahaan internet terbesar di Korea Selatan, NAVER berupaya memperkuat daya saingnya di tengah dominasi perusahaan teknologi Amerika Serikat yang lebih dahulu mengembangkan model AI seperti ChatGPT.
Melalui pembangunan pusat komputasi sendiri, NAVER ingin mengembangkan model AI berbahasa Korea secara mandiri tanpa harus bergantung pada layanan cloud milik Amazon, Microsoft, maupun Google.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kedaulatan data sekaligus mempercepat inovasi AI yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Tren AI Berdaulat Menguat di Asia
Langkah Korea Selatan juga mencerminkan tren yang mulai berkembang di berbagai negara Asia.
Jepang telah mengumumkan pembangunan kapasitas komputasi AI domestik, sementara Singapura terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan AI regional.
Kini, semakin banyak negara memandang infrastruktur AI sebagai aset strategis yang sama pentingnya dengan industri semikonduktor, jaringan energi, maupun telekomunikasi.
Peluang Besar bagi NVIDIA
Bagi NVIDIA, proyek ini menjadi peluang bisnis yang sangat besar.
Meski nilai kontrak belum diumumkan, pembangunan pusat AI berkapasitas 200 MW diperkirakan membutuhkan GPU dengan nilai investasi mencapai ratusan juta hingga lebih dari 1 miliar dolar AS.
Apabila target 1 GW benar-benar tercapai, proyek tersebut akan menjadi salah satu komitmen pembangunan infrastruktur AI terbesar yang pernah diterima NVIDIA dari pelanggan di luar penyedia layanan cloud hyperscale asal Amerika Serikat.
Tantangan Masih Menanti
Meski ambisinya sangat besar, jadwal pembangunan menuju kapasitas 200 MW maupun target akhir 1 GW masih belum diumumkan secara rinci.
Sejumlah tantangan masih harus dihadapi, mulai dari ketersediaan pasokan listrik, proses perizinan pembangunan, hingga suplai GPU yang saat ini masih menjadi komponen paling diburu industri AI global dilansir Antara.
Namun demikian, percepatan proyek ini memperlihatkan tekad Korea Selatan untuk menjadi salah satu pemain utama dalam ekosistem kecerdasan buatan dunia dan membangun kemandirian teknologi di era digital.