Loading
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas dan memicu kekhawatiran global. Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menegaskan bahwa kunci untuk menghentikan konflik saat ini berada di tangan Amerika Serikat.
Menurut Guterres, perang yang terus bereskalasi ini seharusnya bisa dihentikan. Namun, hal itu sangat bergantung pada kemauan politik dari Washington.
“Perang ini harus dihentikan. Saya percaya hal itu berada di tangan Amerika Serikat. Itu mungkin dilakukan, tetapi bergantung pada kemauan politik,” ujarnya.
Korban Sipil Meningkat, Risiko Kejahatan Perang Membesar
Guterres juga menyoroti meningkatnya jumlah korban sipil dalam konflik yang melibatkan Iran dan Israel. Ia menilai, kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya pelanggaran hukum internasional oleh kedua belah pihak.
Menurutnya, tidak ada pembenaran dalam penargetan warga sipil, siapa pun pelakunya.
“Tidak ada perbedaan. Menargetkan warga sipil sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.
Ia bahkan menambahkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi—baik yang dilakukan oleh Iran maupun terhadap Iran—dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Serangan Balasan Picu Eskalasi Baru
Pernyataan tersebut muncul setelah eskalasi terbaru di kawasan. Israel dilaporkan menyerang ladang gas alam South Pars milik Iran. Serangan ini kemudian dibalas oleh Teheran dengan menargetkan fasilitas energi penting di Qatar.
Rangkaian aksi saling serang ini memperbesar risiko konflik meluas di kawasan Timur Tengah, sekaligus meningkatkan tekanan internasional untuk segera menghentikan kekerasan.
Serangan Awal dan Kepentingan Politik
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan serta korban sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, yang diklaim sebagai bentuk pertahanan diri.
Pada awalnya, AS dan Israel menyebut serangan itu sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, pernyataan lanjutan menunjukkan adanya dorongan untuk perubahan kekuasaan di Iran dikutip Antara.
PBB: Dunia Butuh Deeskalasi, Bukan Perang Baru
Guterres menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan deeskalasi, bukan konflik baru yang semakin meluas. Ia juga mengisyaratkan bahwa strategi militer Israel tampaknya berfokus pada upaya melemahkan kemampuan militer Iran.
Meski demikian, ia mengaku belum melakukan komunikasi langsung dengan Presiden AS, Donald Trump, sejak serangan dimulai.
Situasi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi krusial—bukan hanya sebagai aktor militer, tetapi juga sebagai penentu arah perdamaian di kawasan yang telah lama dilanda konflik.