Arsip - Warga beraktivitas di sebuah jalan di Havana, Kuba (9/7/2021). (ANTARA/Xinhua/Joaquin Hernandez/aa.)
MEKSIKO, ARAHKITA.COM – Pemerintah Kuba menyatakan kekhawatirannya terhadap meningkatnya ancaman agresi militer dari Amerika Serikat (AS) di tengah hubungan kedua negara yang kembali memanas akibat tekanan ekonomi dan pengetatan sanksi.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Josefina Vidal Ferreiro, dalam sidang parlemen pada Jumat (29/5/2026). Menurutnya, situasi yang dihadapi Kuba saat ini semakin mengkhawatirkan karena tekanan terhadap negara itu terus meningkat dalam berbagai bentuk.
Ferreiro menilai kebijakan Washington dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya memperketat sanksi ekonomi, tetapi juga memperbesar risiko terjadinya konfrontasi yang dapat mengancam stabilitas kawasan.
Baca juga:
PBB Sepakat Bahas Embargo AS terhadap Kuba, 136 Negara Beri Dukungan Meski Ditentang Washington“Bahaya agresi militer terhadap Kuba meningkat setiap hari,” ujarnya di hadapan anggota parlemen.
Kuba Soroti Pengetatan Sanksi Ekonomi
Pemerintah Kuba menilai tekanan ekonomi yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade kini memasuki fase yang lebih berat. Menurut Ferreiro, berbagai kebijakan baru yang diterapkan AS bertujuan melemahkan perekonomian Kuba dan memperburuk kondisi sosial masyarakat.
Ia mengatakan pembatasan ekonomi yang semakin ketat berpotensi memicu kesulitan kemanusiaan yang lebih luas, terutama di sektor-sektor vital yang langsung menyentuh kehidupan warga.
Ferreiro juga menuduh AS terus mencari alasan baru untuk meningkatkan tekanan terhadap Kuba. Menurutnya, langkah-langkah tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk membenarkan tindakan yang lebih agresif terhadap negara Karibia tersebut.
Bantah Tuduhan terhadap Raul Castro
Dalam kesempatan yang sama, Ferreiro menanggapi berbagai tuduhan yang diarahkan kepada pemimpin revolusioner Kuba, Raul Castro. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai insinuasi yang tidak berdasar dan tidak memiliki bukti yang kuat.
Pemerintah Kuba menegaskan bahwa negaranya tidak melakukan aktivitas yang mengancam keamanan Amerika Serikat maupun negara lain.
“Kuba tidak menginginkan konflik. Kami selalu menjadi negara yang menjunjung perdamaian, solidaritas, dan hubungan saling menghormati dengan negara lain,” kata Ferreiro.
Ia juga menegaskan bahwa Kuba tetap berkomitmen menjaga hubungan internasional yang damai, namun akan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya jika menghadapi ancaman atau tindakan agresi.
Kebijakan Trump Jadi Sorotan
Ketegangan terbaru antara kedua negara semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, pada Januari lalu menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan penerapan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba.
Selain itu, pemerintah AS juga menetapkan keadaan darurat nasional dengan alasan adanya dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional Amerika Serikat dikutip Antara.
Pemerintah Kuba menilai kebijakan tersebut memperparah berbagai persoalan domestik yang tengah dihadapi negara itu. Dampaknya dirasakan pada pasokan bahan bakar yang semakin terbatas, gangguan pembangkit listrik, transportasi publik, produksi pangan, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Dampak bagi Masyarakat Kuba
Kondisi ekonomi yang semakin tertekan membuat pemerintah Kuba khawatir terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Kelangkaan bahan bakar dan gangguan pasokan energi disebut berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari warga serta produktivitas sektor-sektor penting.
Di tengah situasi tersebut, Havana kembali menyerukan dialog dan hubungan yang lebih konstruktif dengan Washington. Namun, pemerintah Kuba menegaskan tidak akan mengorbankan prinsip kedaulatan nasional dalam menghadapi berbagai tekanan yang datang dari luar negeri.