Ledakan Tambang Batu Bara di Tiongkok Tewaskan 82 Orang, Operasi Penyelamatan Masih Berlangsung. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Tragedi ledakan tambang batu bara kembali mengguncang Tiongkok. Sedikitnya 82 orang dilaporkan meninggal dunia setelah ledakan gas terjadi di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi, wilayah utara negara tersebut.
Selain korban tewas, sembilan orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di tengah kondisi tambang yang berisiko tinggi.
Ledakan terjadi pada Jumat malam sekitar pukul 19.29 waktu setempat di Tambang Batubara Liushenyu yang dikelola Grup Tongzhou. Saat insiden berlangsung, sebanyak 247 pekerja dilaporkan sedang berada di area tambang.
Media pemerintah Tiongkok, Xinhua, menyebut jumlah korban terus diperbarui seiring proses evakuasi dan identifikasi korban di lokasi kejadian.
Peristiwa ini langsung memicu perhatian nasional. Presiden Tiongkok Xi Jinping meminta seluruh pihak terkait mengerahkan upaya maksimal untuk menyelamatkan korban yang masih mungkin bertahan hidup serta memberikan penanganan medis terbaik bagi para korban luka.
Baca juga:
ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal TotalXi juga menegaskan pentingnya investigasi menyeluruh terkait penyebab ledakan tersebut. Pemerintah diminta segera mengusut kemungkinan kelalaian dan meminta pertanggungjawaban pihak yang terlibat.
Provinsi Shanxi sendiri dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di Tiongkok. Namun, wilayah ini juga kerap menjadi sorotan karena tingginya risiko kecelakaan kerja di sektor pertambangan.
Kecelakaan tambang masih menjadi persoalan serius di Tiongkok, terutama di area pertambangan batu bara yang memiliki tingkat risiko tinggi akibat gas metana dan standar keselamatan yang kerap dipertanyakan.
Insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran soal keselamatan pekerja tambang dan pengawasan industri energi di negara tersebut.
Peristiwa ledakan tambang batu bara di Shanxi ini dilaporkan dan dikutip dari BBC yang turut memantau perkembangan proses evakuasi dan respons pemerintah Tiongkok terhadap tragedi tersebut.