Sabtu, 05 September 2026

GPCI: Global Sumud Flotilla Siapkan Langkah Hukum Internasional terhadap Israel


 GPCI: Global Sumud Flotilla Siapkan Langkah Hukum Internasional terhadap Israel Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati berbicara dalam konferensi pers di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026), setelah menyambut kedatangan sembilan WNI yang sempat ditahan oleh Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 untuk Gaza. (ANTARA/Cindy Frishanti)

TANGERANG, ARAHKITA.COM – Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyatakan bahwa Global Sumud Flotilla (GSF) tengah menyiapkan langkah hukum internasional terhadap Israel terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Koordinator GPCI, Maimon Herawati, mengatakan berbagai proses hukum terhadap pejabat dan militer Israel mulai berkembang di tingkat internasional. Menurutnya, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam perjuangan membela rakyat Palestina.

“Sudah ada 35 arrest warrant terhadap IDF dan para pemimpinnya terkait berbagai pelanggaran yang mereka lakukan, dan jumlahnya kemungkinan akan terus bertambah,” ujar Maimon dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5/2026).

Maimon yang juga tergabung dalam Steering Committee GSF menyebut sejumlah tekanan internasional terhadap pejabat Israel mulai terlihat. Ia mencontohkan larangan masuk ke Prancis terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

Menurut dia, langkah hukum internasional harus terus diperjuangkan agar dugaan pelanggaran terhadap warga sipil Palestina mendapatkan perhatian dunia.

GSF Siapkan Pendampingan Hukum dan Sistem Pelacakan

Dalam misi kemanusiaan tersebut, GSF juga telah menyiapkan sistem pelacakan peserta, pendampingan hukum, hingga koordinasi internasional jika terjadi penahanan oleh pihak Israel.

Maimon menjelaskan sistem itu memungkinkan tim mengetahui lokasi para peserta yang ditahan serta mempercepat proses pemberian kuasa hukum.

“Begitu surat kuasa didapatkan, yang diupayakan adalah pembebasan mereka karena memang tidak ada pelanggaran hukum sama sekali,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah Turkiye awalnya hanya menyediakan satu pesawat untuk sekitar 90 peserta asal negara tersebut. Namun setelah koordinasi dengan pihak GSF, Turkiye akhirnya menyiapkan tiga pesawat tambahan guna membawa seluruh peserta ke Istanbul.

Langkah itu dilakukan untuk mempermudah proses visum, dokumentasi dugaan pelanggaran, hingga penyusunan langkah hukum terhadap Israel.

Selain itu, pemerintah Turkiye juga membantu menyediakan akomodasi hotel bagi peserta setelah tiba dari Israel.

Maimon turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri RI yang telah membantu menyediakan tiket kepulangan bagi sembilan warga negara Indonesia peserta misi Global Sumud Flotilla.

Jurnalis Indonesia Mengaku Mengalami Kekerasan Saat Ditahan

Sementara itu, jurnalis GPCI Rahendro Herubowo mengaku mengalami kekerasan fisik selama masa penahanan.

Menurut Heru, perlakuan tersebut mulai terjadi sejak para aktivis dipindahkan ke penjara. Para tahanan disebut diborgol, barang-barang mereka disiram air, lalu menjalani pemeriksaan administrasi sebelum ditempatkan di ruang tahanan.

Heru mengaku mengalami pemukulan di bagian kepala dan tubuh hingga terjatuh dan diinjak. Ia juga menyebut dirinya sempat disetrum sebelum akhirnya dilepaskan setelah berteriak keras di ruang tahanan.

Ia mengatakan situasi paling berat terjadi saat kedatangan dan menjelang proses imigrasi. Menurut pengakuannya, terdapat bilik-bilik khusus yang digunakan untuk mengeksekusi dan menyiksa tahanan sebelum dipindahkan ke lokasi lain.

“Selama pemindahan, kami diborgol, dipaksa berjalan sambil menunduk, ditendang, bahkan dijatuhkan,” ujarnya dikutip Antara.

Tidak hanya itu, Heru juga menyoroti minimnya konsumsi makanan selama penahanan. Ia mengaku hanya diberi roti dan air dalam jumlah terbatas sehingga kondisi fisiknya terus melemah.

Aktivis Tegaskan Tetap Akan Mendukung Gaza

Meski mengaku mengalami kekerasan dan tekanan selama penahanan, Heru mengatakan dirinya tidak kapok mengikuti misi kemanusiaan ke Gaza.

Menurutnya, penderitaan yang dialami para aktivis masih jauh lebih ringan dibandingkan kondisi warga Palestina di Gaza yang terus menghadapi konflik dan krisis kemanusiaan.Heru menilai pencegatan terhadap flotilla menjadi bukti bahwa bantuan kemanusiaan menuju Gaza masih menghadapi hambatan besar.

Ia menegaskan para aktivis akan terus berupaya menembus blokade demi menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru