Loading
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu sorotan dunia internasional setelah melontarkan ancaman keras terhadap Oman. Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump mengatakan Oman bisa “diledakkan” oleh militer AS jika negara itu mencoba ikut mengendalikan Selat Hormuz bersama Iran.
Pernyataan kontroversial tersebut membuat Oman masuk dalam daftar negara yang pernah diancam, dibuka kemungkinan untuk diserang, atau benar-benar menjadi target operasi militer AS selama kepemimpinan Trump.
Menurut laporan CNN yang dikutip sejumlah media internasional, Oman menjadi negara ke-15 yang masuk dalam daftar tersebut sepanjang dua periode pemerintahan Trump.
“Oman akan bersikap seperti negara lain, atau kami harus menghancurkan mereka,” kata Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih.
Meski komentar itu tidak disampaikan dalam pengumuman kebijakan resmi, banyak pengamat menilai ucapan tersebut memperlihatkan pola khas Trump dalam diplomasi luar negeri: menggunakan ancaman kekuatan militer sebagai alat tekanan politik.
Ketegangan terbaru ini berkaitan dengan isu penguasaan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Kawasan itu belakangan kembali memanas setelah muncul laporan mengenai kemungkinan kerja sama Iran dan Oman dalam pengaturan lalu lintas kapal di wilayah tersebut.
Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk jalur perdagangan internasional dan tidak boleh dikendalikan pihak tertentu.
Sepanjang masa jabatan keduanya, Trump disebut telah melancarkan operasi militer atau serangan di sejumlah negara seperti Iran, Irak, Nigeria, Somalia, Suriah, Venezuela, dan Yaman. Beberapa di antaranya juga pernah menjadi target pada periode pertamanya sebagai Presiden AS.
Laporan tersebut juga menyebut serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terkait perdagangan narkotika di Laut Karibia dan Samudra Pasifik belum termasuk dalam hitungan tersebut. Operasi itu disebut menargetkan puluhan kapal dan menyebabkan ratusan korban jiwa.
Selain negara-negara yang menjadi target operasi militer, Trump juga beberapa kali melontarkan ancaman atau membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap negara lain, termasuk Kanada, Kolombia, Kuba, Greenland yang merupakan wilayah Denmark, Meksiko, Panama, hingga Oman.
Pada periode pertama pemerintahannya, Trump juga sempat mengeluarkan ancaman terhadap Korea Utara dan Meksiko.
Namun bentuk ancaman tersebut tidak selalu sama. Ada yang secara langsung berkaitan dengan operasi militer, ada pula yang berupa pernyataan diplomatik keras tanpa tindak lanjut serangan nyata. Dalam beberapa kasus, Trump hanya menolak menutup kemungkinan opsi militer.
Meski begitu, laporan CNN menilai frekuensi ancaman tersebut menunjukkan bagaimana penggunaan kekuatan militer menjadi bagian penting dari gaya politik luar negeri Trump.
Negara-negara yang pernah diancam atau diserang Trump tersebar di empat benua berpenduduk, yakni Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Timur Tengah menjadi kawasan yang paling sering muncul dalam daftar tersebut. Hingga kini, Iran, Irak, Oman, Suriah, dan Yaman menjadi negara-negara di kawasan yang pernah mendapat tekanan langsung dari Trump.
Trump bahkan sempat menyinggung kemungkinan ekspansi wilayah Amerika Serikat terhadap beberapa kawasan strategis. Kanada, Kuba, Greenland, Panama, dan Venezuela pernah disebut dalam konteks kepentingan kontrol atau pengaruh AS.
Isu Greenland sendiri sempat memicu ketegangan diplomatik karena wilayah tersebut merupakan bagian dari Denmark, sekutu dekat Amerika Serikat di Eropa.
Laporan itu juga menyebut negara-negara yang pernah diancam atau diserang Trump mencakup populasi yang sangat besar di dunia, sehingga sebagian masyarakat global merasa perlu mempertimbangkan kemungkinan aksi militer AS selama kepemimpinannya.