Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali berada di titik yang mengkhawatirkan. Teheran melontarkan ancaman keras akan menutup Selat Hormuz apabila Washington kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran.
Ancaman tersebut bukan sekadar pernyataan politik. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, tempat sebagian besar pasokan minyak global melintas setiap harinya. Jika jalur ini benar-benar ditutup, dampaknya diperkirakan akan dirasakan pasar energi internasional hingga perekonomian dunia.
Mengutip Press TV, Rabu (8/7/2026), seorang sumber keamanan Iran menegaskan bahwa negaranya siap mengambil langkah tegas apabila kembali menjadi sasaran serangan.
Baca juga:
PBB Khawatir AS-Iran Kembali Memanas, Guterres: Konflik Bisa Gagalkan Diplomasi dan Guncang Dunia"Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya untuk semua lalu lintas maritim jika terjadi serangan apa pun terhadap Iran," ujar sumber tersebut.
Sumber itu juga menyampaikan bahwa Iran telah menyiapkan strategi balasan yang lebih agresif. Menurutnya, setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menyerang sedikitnya dua target milik pihak lawan.
Baca juga:
PBB Khawatir AS-Iran Kembali Memanas, Guterres: Konflik Bisa Gagalkan Diplomasi dan Guncang DuniaDi sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan negaranya "mungkin" akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu malam. Pernyataan itu muncul setelah militer AS melakukan serangan pada Selasa (7/7) sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Trump juga menyebut nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dengan Iran untuk meredakan konflik kini sudah tidak lagi berlaku.
Baca juga:
Trump Sebut MoU Akhiri Konflik dengan Iran Sudah Berakhir, Tegaskan Tak Ingin Berurusan LagiSumber keamanan Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan membedakan antara Amerika Serikat maupun sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah.
"Ancaman apa pun akan direspons dengan tegas. Iran tidak membedakan antara Amerika Serikat dan mitranya di kawasan ini," katanya dilansir Antara.
Iran juga menegaskan akan tetap mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz. Menurut sumber tersebut, pemerintah Iran tidak akan mengizinkan pembentukan jalur pelayaran baru yang berada di luar pengaturan yang telah ditetapkan Teheran.
"Nota kesepahaman yang telah ditandatangani menyatakan bahwa Iran akan membuka kembali selat tersebut sesuai pengaturannya sendiri. Karena itu, Iran tidak akan mengizinkan pembentukan rute baru di luar kerangka tersebut," ujarnya.
Sementara itu, pada Rabu pagi, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke 85 target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Target yang disebutkan antara lain Pelabuhan Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Serangan itu terjadi setelah Komando Pusat militer AS mengklaim telah menghantam lebih dari 80 target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Meningkatnya aksi saling serang antara kedua negara memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Selain berpotensi mengganggu keamanan kawasan, eskalasi ini juga dapat memengaruhi stabilitas perdagangan global, terutama distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia.