Minggu, 16 Agustus 2026

BNPB: 9.290 Warga Mengungsi Pascagempa M7,7 di NTT, 47 Orang Meninggal


  • Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:00
  • | News
 BNPB: 9.290 Warga Mengungsi Pascagempa M7,7 di NTT, 47 Orang Meninggal Ilustrasi: Petugas melakukan penyisiran bangunan Pelabuhan Laurentius Say Maumere yang rusak akibat gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). ANTARA FOTO/Gregorio J Gilbert/sth/nz/am.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan ribuan warga mengungsi. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 9.290 warga bertahan di sejumlah titik pengungsian.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan data tersebut merupakan hasil pemutakhiran hingga pukul 00.00 WIB, Minggu (16/8/2026).

Menurut Berton, konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Manggarai.

Di Kabupaten Sikka tercatat sebanyak 3.356 warga mengungsi, sedangkan di Kabupaten Manggarai terdapat 2.078 pengungsi.

Ribuan Warga Sikka Mengungsi

Di Sikka, para pengungsi tersebar di sejumlah lokasi. Sebanyak 1.356 jiwa berada di GOR Samador, sementara sekitar 2.000 warga lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik lokasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan tidak hanya berada di posko-posko pengungsian resmi. Sebagian warga memilih mencari tempat yang dianggap lebih aman secara mandiri setelah gempa terjadi.

Pengungsian juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Nagekeo dengan jumlah sekitar 500 jiwa.

Dampak gempa bahkan tercatat hingga wilayah di luar NTT, termasuk Kota Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan.Secara keseluruhan, BNPB sementara mencatat 9.290 warga mengungsi akibat gempa NTT.

Kebutuhan Logistik Mendesak

Di tengah situasi darurat, pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas menjadi salah satu fokus utama penanganan.

BNPB memastikan kebutuhan pangan, tempat berlindung, air bersih, kesehatan, dan penerangan harus segera dipenuhi selama warga masih berada di pengungsian.

Khusus di Kabupaten Manggarai, kebutuhan mendesak yang diperlukan antara lain tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih dan tandon, serta genset untuk penerangan.

Kebutuhan tersebut menjadi penting karena sebagian warga belum dapat kembali ke rumah, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah.

47 Orang Meninggal, 101 Luka-luka

Selain menyebabkan ribuan warga mengungsi, gempa NTT juga menimbulkan korban jiwa.

BNPB mencatat sementara 47 orang meninggal dunia dan 101 warga mengalami luka-luka serta masih mendapatkan perawatan medis.Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 23 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 17 orang.

Sementara itu, korban meninggal lainnya tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak empat orang, Manggarai Barat satu orang, Ende satu orang, dan Nagekeo satu orang.

Data korban tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan serta verifikasi yang dilakukan petugas di lapangan.

Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan

Gempa yang berpusat di laut tersebut juga menimbulkan kerusakan pada permukiman warga.

BNPB mencatat sebanyak 914 rumah rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik yang menjadi bagian penting dalam pelayanan masyarakat.

Sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan.

Besarnya dampak gempa membuat proses penanganan membutuhkan koordinasi berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB dan BPBD, maupun unsur terkait lainnya.

Penanganan Pengungsi Terus Dilakukan

Dengan ribuan warga masih berada di pengungsian, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi tantangan utama dalam masa tanggap darurat.

BNPB menegaskan pemenuhan hak-hak dasar para penyintas menjadi prioritas, sembari proses pendataan korban, penilaian kerusakan, distribusi bantuan, dan penanganan fasilitas terdampak terus dilakukan.

Masyarakat di wilayah terdampak juga diimbau mengikuti arahan petugas dan tidak terburu-buru kembali ke bangunan yang belum dinyatakan aman.Data jumlah pengungsi, korban, dan kerusakan masih bersifat sementara dan dapat diperbarui sesuai hasil pendataan terbaru di lapangan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru