Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Flu mungkin terdengar sepele. Namun setiap 1 November, dunia kembali diingatkan bahwa penyakit ini pernah mengguncang sejarah umat manusia. Hari ini, peringatan Hari Flu Sedunia (World Flu Day) kembali digelar di berbagai negara, termasuk Indonesia — bukan hanya sebagai ritual tahunan, tapi sebagai ajakan untuk tak lagi meremehkan influenza.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), peringatan ini punya makna mendalam bagi kesehatan global.
“Hari Flu Sedunia pertama kali dicanangkan pada tahun 2018 untuk memperingati 100 tahun pandemi Flu Spanyol 1918,” jelasnya saat dihubungi Arahkita, Jumat (1/11/2025).
“Wabah itu menelan 20 hingga 50 juta jiwa, lebih banyak dari korban Perang Dunia I. Itu menjadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit ringan.”
Sejarah Panjang Influenza di Dunia
Setelah pandemi 1918, dunia beberapa kali menghadapi ancaman serupa. Prof. Tjandra menjelaskan bahwa setidaknya lima kejadian besar akibat virus influenza pernah tercatat dalam sejarah.
“Ada pandemi tahun 1957–1958 akibat virus H2N2, tahun 1968 dengan H3N2, serta tahun 2009 dengan H1N1pdm09 atau yang dikenal sebagai flu babi,” ujarnya.
“Bahkan pada 1977, sempat ada peningkatan kasus H1N1 yang disebut ‘pseudo pandemic’. Ini menandakan virus influenza masih sangat dinamis dan bisa berubah setiap waktu.”
Menurutnya, pandemi berikutnya sangat mungkin kembali dipicu oleh virus influenza atau bahkan penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang berpindah dari hewan ke manusia.
Belajar dari Masa Lalu
Flu Spanyol 1918 menjadi contoh nyata bagaimana pandemi bisa bermula dari gelombang ringan sebelum berubah menjadi bencana global.
“Gelombang pertama waktu itu tampak ringan, tapi gelombang berikutnya justru amat menular dan mematikan,” kata Prof. Tjandra.
“Artinya, walaupun saat ini peningkatan kasus flu belum bisa disebut wabah, kewaspadaan harus tetap dijaga.”Ia mengingatkan agar masyarakat tidak lengah, apalagi dengan mobilitas global yang tinggi dan perubahan iklim yang bisa memengaruhi pola penyebaran penyakit.
Beban Flu Masih Berat
Data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 mencatat bahwa setiap tahun sekitar 1 miliar orang di dunia terinfeksi influenza, dengan 3–5 juta kasus berat dan 290.000–650.000 kematian akibat komplikasi.
“Angka ini jelas tidak kecil,” tegas Prof. Tjandra. “Flu masih menjadi masalah kesehatan global yang nyata. Karena itu, edukasi dan pencegahan harus terus digalakkan.”
Meningkatkan Kesadaran dan Kolaborasi
Hari Flu Sedunia memiliki tiga tujuan utama: meningkatkan pemahaman publik, memperkuat riset menuju vaksin flu universal, serta membangun kerja sama global untuk mencegah dan mengendalikan influenza.
“Kesadaran masyarakat penting agar kita tidak hanya reaktif saat wabah muncul,” tutur penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI tahun 2025 itu.“Kita perlu kesiapsiagaan lintas negara agar pandemi serupa tidak terulang.”
Vaksinasi, Langkah Nyata Pencegahan
Prof. Tjandra menegaskan, vaksinasi influenza adalah perlindungan terbaik terhadap flu dan komplikasinya.
“WHO menyatakan vaksinasi sebagai cara paling efektif untuk mencegah flu,” katanya.
“Pemerintah diharapkan dapat memperluas akses vaksin flu, terutama bagi warga yang berisiko tinggi seperti lansia, anak-anak, dan tenaga kesehatan — seperti yang sudah dilakukan di beberapa negara tetangga.”
Peringatan yang Relevan untuk Indonesia
Bagi Indonesia, momentum Hari Flu Sedunia seharusnya menjadi ajakan untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat dan memantapkan sistem surveilans penyakit menular.
“Kita harus belajar dari masa lalu,” tutup Prof. Tjandra. “Flu bukan penyakit kecil. Dengan kesadaran, vaksinasi, dan kolaborasi global, dunia bisa lebih siap menghadapi ancaman serupa di masa depan.”