Loading
lustrasi - Kanker (Pixabay)
SHENZHEN, ARAHKITA.COM — Para peneliti di China mengumumkan pengembangan molekul inovatif yang disebut sebagai “vaksin intratumoral”, sebuah pendekatan baru dalam terapi kanker presisi. Molekul ini dirancang untuk menghambat kemampuan tumor melemahkan sistem kekebalan, sekaligus memanfaatkan memori imun yang sudah tersimpan di dalam tubuh agar kembali aktif menyerang sel kanker.
Temuan tersebut dilaporkan oleh tim ilmuwan dari Laboratorium Teluk Shenzhen dan Universitas Peking, dan telah dipublikasikan secara daring dalam jurnal Nature pada Kamis (8/1/2026).
Mengapa Terapi Imun Masih Belum Efektif untuk Semua Pasien?
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi immune checkpoint blockade menjadi salah satu revolusi besar di dunia onkologi. Metode ini bekerja dengan memperkuat kemampuan sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan sel kanker.
Namun, pada kenyataannya terapi ini masih belum optimal untuk banyak pasien. Salah satu penyebabnya adalah beban mutasi tumor yang rendah dan minimnya neoantigen—“penanda” yang biasanya memudahkan sistem imun membedakan sel kanker dari sel normal. Akibatnya, tumor dapat lolos dari pengawasan imun dan terus berkembang.
Memanfaatkan “Cadangan” Kekuatan Imun yang Selama Ini Terabaikan
Tim peneliti kemudian menyoroti potensi sumber imun yang jarang dieksplorasi: sel T bystander. Sel T ini terbentuk akibat infeksi yang pernah dialami tubuh sebelumnya—misalnya infeksi cytomegalovirus (CMV).
Menariknya, pada banyak orang dewasa, sel T bystander dapat tetap dalam kondisi dorman, tetapi menyimpan memori imunologis yang kuat. Artinya, tubuh sebenarnya memiliki “pasukan cadangan” yang siap bergerak cepat ketika mengenali penanda virus yang familiar.
Dari sinilah muncul hipotesis penting: bagaimana jika tumor dipaksa menampilkan antigen CMV? Bila itu berhasil, maka sel T memori anti-CMV yang melimpah bisa dimobilisasi untuk menyerang kanker.
iVAC: Molekul Sintetis dengan Dua Fungsi Sekaligus
Untuk menguji gagasan tersebut, para peneliti merancang molekul sintetis bernama intratumoral vaccination chimera (iVAC).
Molekul ini bekerja dengan dua mekanisme utama:
Mengantarkan Epitop Antigen CMV ke Lingkungan Tumor
Dengan cara ini, tumor seolah-olah diberi “label virus” yang mudah dikenali. Alhasil, sel T memori anti-CMV akan menganggap tumor sebagai ancaman dan menyerangnya.Sederhananya, iVAC bukan hanya membuat pertahanan tumor melemah, tetapi juga mengundang sistem imun menyerang dengan kekuatan memori yang sudah tersedia.Hasil uji pada tikus dan sampel tumor pasien
Dalam pengujian pada model tikus serta kelompok tumor yang berasal dari pasien, iVAC berhasil:
Temuan ini dinilai memberi arah baru bagi terapi kanker modern—khususnya untuk kasus-kasus yang selama ini tidak merespons optimal terhadap imunoterapi standar.
Menuju Uji Klinis
Peneliti senior Laboratorium Teluk Shenzhen, Chen Peng, menyatakan bahwa timnya kini sedang mengembangkan molekul translasional berdasarkan mekanisme iVAC. Target berikutnya adalah membawa teknologi ini menuju tahap uji klinis di masa depan.
Jika berhasil dikembangkan untuk manusia, iVAC berpotensi menjadi salah satu jalan baru menuju pengobatan kanker yang lebih presisi, dengan memanfaatkan “modal” alami tubuh berupa memori sistem imun.