Loading
Ilustrasi fatty liver Subang Jaya Medical Center
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Penyakit hati berlemak sering berkembang tanpa gejala yang jelas selama bertahun-tahun. Lemak perlahan menumpuk di dalam sel hati, mengganggu metabolisme normal, tanpa menimbulkan keluhan berarti. Kondisi ini kini dikenal sebagai penyakit hati steatosis terkait disfungsi metabolik atau metabolic dysfunction–associated steatotic liver disease (MASLD), dan telah menjadi salah satu penyakit hati kronis paling umum di dunia.
Peningkatan kasus penyakit hati berlemak berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup global. Obesitas, resistensi insulin, dan diabetes tipe 2 menjadi faktor utama yang mendorong kondisi ini. Pola makan tinggi kalori, konsumsi gula berlebih, serta minimnya aktivitas fisik membuat hati bekerja melampaui kapasitas normalnya. Karena kerusakan pada tahap awal masih dapat dipulihkan, memahami penyebab meningkatnya penyakit ini sama pentingnya dengan mengetahui siapa yang berisiko.
Gejala Perlemakan Hati
Baca juga:
Dokter India Waspadai Tren Suntikan Penurun Berat Badan: Bukan Jalan Pintas Lawan ObesitasBanyak orang baru mengetahui dirinya mengidap penyakit hati berlemak setelah menjalani pemeriksaan darah rutin atau pencitraan untuk keluhan lain. Saat kelelahan kronis atau rasa tidak nyaman di perut kanan atas mulai muncul, peradangan atau jaringan parut sering kali sudah terbentuk. Inilah yang membuat deteksi dini menjadi krusial, terutama pada orang dewasa dengan masalah metabolik.
Pada tahap awal, penyakit hati berlemak hampir selalu tanpa gejala. Steatosis ringan jarang menimbulkan nyeri, dan peningkatan enzim hati biasanya minimal. Ketika gejala mulai terasa, kondisi tersebut umumnya telah berkembang lebih jauh. Keluhan yang dapat muncul meliputi kelelahan berkepanjangan, rasa tertekan di perut kanan atas, dan menurunnya stamina. Pada tahap lanjut, tanda-tanda serius seperti penyakit kuning, pembengkakan perut, pembengkakan kaki, hingga gangguan kesadaran dapat terjadi, menandakan fungsi hati yang sudah terganggu signifikan.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases mencatat bahwa sebagian besar penderita tidak menyadari kondisi ini karena ketiadaan gejala. Tingkat keparahan keluhan juga tidak selalu sejalan dengan derajat kerusakan hati, sehingga pemeriksaan laboratorium dan pencitraan menjadi alat penting dalam penilaian medis.
Penyebab Utama Fatty Liver
Penyebab utama penyakit hati berlemak berakar pada gangguan metabolisme. Ketika asupan kalori melebihi kemampuan tubuh untuk mengolahnya, kelebihan energi diubah menjadi lemak dan disimpan di hati. Resistensi insulin memperburuk kondisi ini dengan meningkatkan aliran asam lemak ke hati sekaligus merangsang produksi lemak baru di dalam sel hati. Akumulasi ini memicu stres oksidatif dan peradangan.
Secara global, peningkatan obesitas, terutama obesitas perut, menjadi pendorong utama. Diet tinggi karbohidrat olahan dan minuman manis berbasis fruktosa mempercepat pembentukan lemak hati. Kurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, dan stres kronis semakin memperberat tekanan metabolik. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa lonjakan obesitas dan diabetes tipe 2 berjalan seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit hati berlemak, khususnya di wilayah yang mengalami urbanisasi cepat.
Diagnosis penyakit hati berlemak umumnya dimulai dari tes darah yang menunjukkan peningkatan enzim hati seperti ALT dan AST, meskipun hasil normal tidak menyingkirkan penyakit. Pemeriksaan USG sering menjadi langkah awal untuk mendeteksi penumpukan lemak, ditandai dengan tampilan hati yang lebih cerah. Untuk menilai risiko jaringan parut, metode non-invasif seperti elastografi transien atau FibroScan digunakan, sementara teknik berbasis MRI mampu mengukur kandungan lemak hati dengan lebih akurat.
Skor klinis non-invasif, seperti FIB-4, membantu dokter menentukan pasien yang membutuhkan evaluasi lanjutan. Biopsi hati kini lebih jarang dilakukan dan biasanya hanya digunakan bila diagnosis atau tingkat keparahan masih belum jelas. American Liver Foundation menegaskan bahwa pendekatan non-invasif memungkinkan deteksi dini dan pencegahan kerusakan permanen melalui perubahan gaya hidup.
Penanganan penyakit hati berlemak berfokus pada perbaikan faktor metabolik. Penurunan berat badan secara bertahap sebesar 7 hingga 10 persen terbukti mampu mengurangi lemak hati dan peradangan secara signifikan. Pola makan berbasis makanan utuh, tinggi serat, dan lemak tak jenuh membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Aktivitas fisik teratur memberikan manfaat langsung pada kesehatan hati, bahkan tanpa penurunan berat badan yang besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, obat-obatan seperti agonis reseptor GLP-1 menunjukkan hasil menjanjikan dalam mengurangi steatosis, terutama pada pasien diabetes. Pada kasus obesitas berat, operasi bariatrik dapat menghasilkan perbaikan besar, bahkan pembalikan penyakit hati berlemak.
Pencegahan tetap menjadi strategi utama. Mengurangi konsumsi minuman manis, menjaga lingkar pinggang ideal, mengontrol gula darah, serta memantau kadar kolesterol dapat menurunkan risiko jangka panjang. Intervensi sejak dini memberi peluang terbaik untuk mencegah perkembangan menjadi sirosis atau kanker hati.
Penyakit hati berlemak bukan sekadar masalah organ tunggal, melainkan cerminan tekanan metabolik seluruh tubuh. Penumpukan lemak di hati memperburuk resistensi insulin dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, mengenali kondisi ini sebagai sinyal peringatan metabolik dapat membantu menggeser fokus dari pengobatan ke pencegahan dan kesehatan jangka panjang.