Loading
Ilustrasi serangan jantung. (Shutterstock)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Penelitian terbaru mengungkap dampak serangan jantung ternyata tidak hanya menyerang organ jantung, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan otak. Studi ini menemukan adanya zat beracun yang dilepaskan tubuh setelah serangan jantung dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan mental hingga penurunan fungsi kognitif.
Riset yang dipimpin peneliti dari University of Ottawa itu menemukan molekul bernama methylglyoxal (MG) meningkat tajam dalam aliran darah setelah seseorang mengalami serangan jantung. Molekul tersebut kemudian menumpuk di otak, terutama di area yang berkaitan dengan emosi dan kemampuan berpikir.
Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science dan menjadi salah satu bukti kuat adanya hubungan erat antara kesehatan jantung dan otak.
Peneliti menjelaskan, saat serangan jantung terjadi, tubuh mengalami stres berat akibat berkurangnya suplai oksigen, meningkatnya peradangan, serta perubahan metabolisme secara drastis. Kondisi inilah yang memicu lonjakan methylglyoxal dalam tubuh.
Sebelumnya, methylglyoxal lebih banyak dikaitkan dengan penyakit metabolik seperti diabetes. Namun dalam penelitian terbaru ini, tim ilmuwan menemukan jaringan jantung yang rusak akibat serangan jantung juga memproduksi molekul tersebut dalam jumlah besar.
“Kami memprediksi methylglyoxal dalam darah akan menargetkan organ lain termasuk otak, dan itu yang kami temukan,” kata penulis senior penelitian Dr. Erik Suuronen.
Penelitian itu juga menyoroti tingginya kasus depresi dan kecemasan pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung. Menurut peneliti, risiko depresi dan kecemasan pada penderita serangan jantung bisa mencapai tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Tak hanya itu, pasien yang mengalami depresi atau kecemasan setelah serangan jantung disebut memiliki kemungkinan hingga 2,7 kali lebih besar mengalami serangan jantung kedua atau bahkan kematian.
Temuan tersebut semakin memperkuat konsep “heart-brain axis”, yakni hubungan dua arah antara jantung dan otak. Ketika jantung mengalami gangguan serius, dampaknya ternyata dapat menjalar hingga sistem saraf pusat.
Peradangan dan kerusakan sel otak akibat methylglyoxal juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's disease dan demensia.
Saat ini, tim peneliti tengah mengembangkan terapi berbasis peptida untuk membantu mencegah kerusakan otak akibat methylglyoxal. Terapi tersebut dirancang bekerja seperti spons molekuler yang mampu “menangkap” zat beracun sebelum masuk ke sistem saraf pusat.
Suuronen mengatakan terapi itu segera diuji untuk mengetahui efektivitasnya dalam melindungi otak pasien pasca serangan jantung.
Jika hasilnya positif, terapi tersebut diyakini berpotensi membantu menekan risiko gangguan mental sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya serangan jantung berulang.