Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama, di Sanya, Hainan, paling selatan China. (Foto: Dok. Pribadi)
Catatan Perjalanan Prof Tjandra Yoga Aditama
SORE ini saya berada di Sanya, kota wisata di bagian selatan Pulau Hainan, China. Nama kota ini mungkin belum sepopuler Beijing atau Shanghai, tetapi Sanya punya satu keunggulan yang langsung terasa sejak awal tiba: pantainya cantik, bersih, dan tertata.
Salah satu pantai yang paling dikenal di sini adalah Dadonghai Bay—tempat saya berfoto. Suasananya membuat saya teringat pada Pantai Kuta di Bali, dengan garis pantai yang ramah untuk jalan santai, deretan restoran, dan tempat duduk-duduk menikmati angin laut. Bedanya, di Dadonghai tidak ada ombak besar untuk surfing. Namun justru itulah yang membuat pantai ini terasa lebih tenang: cocok untuk wisata keluarga, berenang ringan, atau sekadar menikmati sore tanpa buru-buru.
Yang menarik, saya melihat kawasan wisata di sini seperti “diatur dengan rapi”. Jalan kaki nyaman, area komersial tertib, dan pantai terlihat sangat bersih. Dalam hati saya berpikir: ini bisa jadi cermin untuk Bali dan destinasi pantai lain di Indonesia—bagaimana menata ruang publik dengan disiplin sehingga pengunjung nyaman, dan lingkungan tetap terjaga.
Menyapa “Ujung Dunia” di Tianya Haijiao
Selain Dadonghai, ada pantai lain yang cukup ikonik: Tianya Haijiao, yang dapat diterjemahkan sebagai “Taman Ujung Dunia”. Tempat ini berada di salah satu titik paling selatan Pulau Hainan—bahkan termasuk kawasan paling selatan China.
Banyak orang menyebutnya “ujung dunia” karena letaknya yang seolah menjadi batas. Saya jadi teringat pada Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang juga sering dianggap ujung paling selatan Afrika (padahal secara geografis bukan titik paling selatan, melainkan bagian barat daya). Perbandingan ini mungkin tidak persis sama, tetapi nuansanya serupa: ada sensasi berada di tepi wilayah, tempat laut dan daratan seakan berbincang.
Gedung Mahkota dan Jejak Miss World
Di Sanya juga ada bangunan unik yang mudah dikenali: Beauty Crown Grand Theater, bangunan dengan bentuk mahkota di bagian atasnya. Tempat ini punya sejarah menarik karena pernah menjadi tuan rumah final Miss World berkali-kali: 2003, 2004, 2005, 2007, 2010, 2015, 2017, dan 2018. Jadi, selain pantai, Sanya juga punya sisi “kota event” yang serius.
Motor Listrik: Jalurnya Tertib, Menyeberangnya Unik
Seperti banyak kota lain di China, motor listrik di Sanya sangat dominan. Yang membuat saya kagum adalah tata jalannya. Umumnya tersedia tiga jalur:
Tetapi ada pemandangan yang menurut saya unik: saat menyeberang, motor listrik ikut menyeberang di zebra cross bersama pejalan kaki. Bahkan di persimpangan besar disediakan area khusus untuk menunggu lampu merah, dan beberapa tempat diberi atap. Jadi pengendara motor listrik tidak kepanasan saat berhenti. Rapi, sederhana, tetapi terasa dipikirkan detailnya.
Ketika “Spasiba” Terdengar di Pantai Sanya
Hal lain yang cukup mencuri perhatian saya: pengaruh wisatawan Rusia di Sanya terasa sangat nyata. Di banyak toko dan restoran, tulisan Mandarin di bagian atas hampir selalu disertai tulisan bahasa Rusia di bawahnya.
Di pantai Dadonghai, pengumuman keselamatan pun disampaikan dalam dua bahasa: China dan Rusia. Maka selain “Xie Xie”, terdengar juga “Spasiba”—dua ucapan terima kasih dari dua budaya, menggambarkan betapa Sanya bukan hanya destinasi lokal, tetapi juga tujuan wisata internasional.
Sanya memberi pengalaman yang santai: pantai tropis, kota rapi, dan suasana global yang terasa natural. Dari selatan China, saya menyapa laut—dan pulang membawa catatan kecil tentang bagaimana wisata bisa dibangun: bukan hanya indah, tetapi juga tertib, nyaman, dan manusiawi.