Loading
Pintu gerbang Kebun Raya Bogor. (Arahkita/Margaretha Purwati)
BOGOR, ARAHKITA.COM - Mendengar Kebun Raya Bogor, umumnya orang hanya tahu bahwa area seluas 87 hektar ini dibuat dan dikelola penjajah kolonial Belanda di rentang tahun 1811 hingga 1945 sebagai hutan buatan yang berfungsi sebagai tempat penelitian tumbuhan. Sayang sekali! Padahal kosep hutan buatan untuk mengembangkan dan melestarikan tumbuhan sudah lebih dahulu dilakukan oleh penguasa tanah Sunda.
Sebenarnya pihak yang lebih dahulu membuat hutan buatan (hutan samida) di lokasi ini adalah penguasa Kerajaan Sunda bernama Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513). Pada masa itu, hutan samida atau hutan buatan ini sudah dibuat, bertujuan sebagai tempat untuk memelihara dan membudidayakan benih-benih kayu yang sudah langka. Tujuan lainnya adalah untuk melestarikan alam sekitar sebagai wujud bakti kepada Sang Pencipta.
Jadi, hutan samida pada era Prabu Siliwangi inilah sesungguhnya cikal bakal berdirinya Kebun Raya Bogor, bukan pada era kolonial Belanda! Jelaslah, bangsa sendiri sebenarnya sudah lebih dahulu mempunyai pola pikir yang maju serta brilian untuk merawat dan melestarikan bumi tempat hidup manusia.
Sangat memprihatinkan, pada buku-buku pelajaran di sekolah tidak dikupas dan diulas tentang peran Kerajaan Sunda di hutan samida ini (yang sekarang bernama Kebun Raya Bogor). Yang ditulis dalam buku pelajaran di sekolah justru hanya membanggakan bangsa barat yang menanam berbagai jenis tanaman di Kebun Raya Bogor ini.
Sesungguhnya, pada awalnya para penjajah ini menanam pohon hanya untuk memperindah halaman istananya atau tempat tinggalnya yang sangat luas itu (berhektar-hektar). Barulah pada perkembangannya timbul ide untuk menjadikan area hutan buatan ini sebagai objek penelitian dan pengembangan berbagai macam tumbuhan.
Apa buktnya? Mari kita telusuri fakta sejarah. Disebutkan bahwa sekitar tahun 1811 Letnan Gubernur Inggris di Pulau Jawa bernama Thomas Stamford Raffles bersama Olivia Mariamne Raffles isterinya mendiami Istana Bogor. Rafles ingin membuat taman yang indah bergaya klasik ala para bangsawan Inggris. Untuk mewujudkan impiannya itu maka Rafles meminta bantuan seorang ahli botani terkenal pada jamannya, William Kent (dia juga membangun Kew Garden di Richmond, UK).
Di tahun 1814, Olivia terserang penyakit malaria dan akhirnya meninggal dunia pada usia 43 tahun. Olivia tidak dimakamkan di Bogor ini melainkan di pemakaman khsusus bagi orang Eropa di Batavia. Untuk mengenang mendiang istrinya, maka Rafles membuat sebuah monumen di lokasi Kebun Raya Bogor, Lady Raffles Memorial Monument. Raffles berkuasa di tanah Jawa hingga tahun 1816.
Setahun kemudian, pada tanggal 18 April 1817, barulah Kebun Raya Bogor didirikan oleh Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg.
Itulah fakta sesungguhnya tentang peran penting Prabu Siliwangi bagi cikal bakal berdirinya Kebun Raya Bogor yang sekarang ini ada. Dialah yang pertama kali mewujudkan idenya dalam hal mengembangkan hutan buatan di area Kebun Raya Bogor, bukan bangsa asing dari Eropa. Jika terus menerus seperti ini, tidak memberikan porsi informasi yang seimbang dan sebenar-benarnya maka generasi muda di nusantara ini akan merasa bahwa orang barat lebih pintar dan superior daripada lelulurnya. Padahal fakta sebenarnya tidaklah demikian.
Hal-hal yang berhubungan dengan hutan samida (area Kebun Raya Bogor) tertulis dengan jelas pada Prasasti Batutulis yang ditemukan di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Tempat ditemukannya Prasasti Batutulis ini dahulu merupakan wilayah Ibukota Pajajaran. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan tidak diragukan lagi.
Ukiran kalimat di Prasasti Batutulis adalah aksara Sunda Kawi atau Sunda Kuno (Pallawa) dengan mengunakan bahasa Sansekerta. Hurufnya berwarna putih di atas batu terasit.
Prasasti Batutulis berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi). Jenis batuan terasit ini adalah jenis bebatuan yang terdapat di aliran Sungai Cisadene, Bogor. Prasasti Batutulis dibuat pada masa Prabu Surawisesa sebagai peringatan terhadap ayahandanya, yaitu Prabu Siliwangi.
Mau tahu isi Prasasti Batutulis ini dalam bahasa Sunda kuno? Ini dia:
Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum
diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana
di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
pun ya nu nyusuk na pakwan Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.
diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi"
Pada perjalanannya, hutan samida yang asri dan subur ini tidak terurus lagi saat Kerajaan Sunda ditaklukkan oleh Kesultanan Banten.
Setelah Pajajaran runtuh, kira-kira sekitar 15 tahun kemudian barulah bangsa Belanda menguasai wilayah hutan buatan peninggalan Prabu Siliwangi ini.
Begitulah sekilas info tentang asal mula Kebun Raya Bogor ini.
Saat ini, Presiden Republik Indonesia ke-7 Joko Widodo menjadikan Istana Bogor sebagai kediaman resminya dan sekaligus berkantor di sini dalam menjalankan roda pemerintahan.