Loading
Ilustrasi nyeri leher. (ANTARAPexels)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Membunyikan leher kerap dianggap sebagai cara cepat untuk mengurangi rasa kaku atau melepas stres. Sensasi lega yang muncul setelahnya membuat kebiasaan ini terus dilakukan tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Padahal, para ahli medis mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan risiko serius, mulai dari cedera leher hingga memicu stroke dalam kasus tertentu.
Dokter spesialis Anestesiologi dan Pengobatan Nyeri Intervensional, Dr. Kunal Sood, MD, menjelaskan bahwa suara letupan yang terdengar saat leher dibunyikan sebenarnya bukan sumber utama bahaya.
“Rasa lega sementara itu berasal dari peregangan sendi yang cepat dan pelepasan gelembung gas di dalam cairan sinovial. Suara yang terdengar tidak berbahaya dengan sendirinya,” ujar Dr. Sood, seperti dikutip dari Hindustan Times, Kamis (15/1/2026).
Namun, menurut Sood, risiko justru muncul ketika leher terlalu sering dipaksa bergerak melebihi batas rentang gerak alaminya. Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan ligamen di sekitar tulang belakang leher menjadi lebih longgar dan mengurangi stabilitas struktur leher.
“Jika dilakukan berulang kali, ini bisa membuat tulang belakang leher kurang stabil, sehingga pergerakan mendadak menjadi lebih tidak terkontrol,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat jaringan penting di area leher menjadi lebih rentan terhadap cedera. Dr. Sood menekankan bahwa gerakan leher yang terlalu tajam atau kuat dapat memberi tekanan abnormal pada pembuluh darah utama yang melewati leher.
“Gerakan leher yang kuat bisa menimbulkan tekanan geser pada arteri vertebralis dan karotis,” kata Sood.
Dalam kasus yang jarang terjadi, tekanan ini dapat memicu robekan pada lapisan dalam arteri, yang dikenal sebagai diseksi arteri serviks. Robekan tersebut berisiko menyebabkan terbentuknya gumpalan darah yang dapat mengalir ke otak dan menghambat aliran darah, sehingga berujung pada stroke.
“Sebagian besar orang memang tidak akan mengalami kondisi ini. Namun mekanisme risikonya telah terdokumentasi dengan baik, sehingga manipulasi leher yang berulang dan agresif, terutama yang dilakukan sendiri, sebaiknya dihindari,” tambahnya.
Sebagai alternatif yang lebih aman, Dr. Sood menyarankan cara lain untuk mengatasi kekakuan leher, seperti latihan mobilitas ringan, perbaikan postur tubuh, penguatan otot leher secara terarah, hingga terapi fisik sesuai kebutuhan.
“Pendekatan yang lembut dan terkontrol jauh lebih aman dibandingkan membunyikan leher secara agresif,” pungkasnya.