Loading
Ilustrasi Masalah stres pada pria Pixabay
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Penelitian dari Universitas Colorado Anschutz mengungkap bahwa stres yang dialami seorang ayah sebelum proses pembuahan dapat memengaruhi pertumbuhan awal anak.
Temuan ini dilaporkan dalam jurnal iScience dan dikutip dari Neuroscience News, Rabu (27/5/2026). Studi tersebut menunjukkan bahwa stres pra-pembuahan yang berlangsung lama dapat meningkatkan molekul RNA non-coding kecil bernama let-7f-5p dalam sperma ayah.
Molekul yang muncul sebagai respons terhadap stres ini diduga berperan dalam mengatur perkembangan embrio pada tahap awal, yang kemudian berdampak pada pertumbuhan setelah kelahiran.
Peneliti menemukan bahwa efek stres tidak selalu mengubah DNA, melainkan dapat bekerja melalui sinyal biologis yang dibawa oleh sperma.
Dalam eksperimen pada tikus, peneliti meningkatkan kadar let-7f-5p pada sel telur yang telah dibuahi untuk meniru kondisi stres pada ayah.
Hasilnya, anak tikus jantan yang terpapar kadar molekul lebih tinggi menunjukkan pertumbuhan yang lebih besar dan memiliki tulang lebih panjang, meskipun tidak mengalami perubahan pola makan.
Penulis utama studi, Tracy Bale, PhD, menjelaskan bahwa sperma tidak hanya membawa informasi genetik, tetapi juga sinyal biologis yang dipengaruhi pengalaman hidup seseorang.
“Mereka membawa informasi tentang pengalaman seorang ayah yang dapat membentuk perkembangan awal dan kesehatan jangka panjang,” kata Bale.
Sementara itu, Ketua Departemen Psikiatri Universitas Colorado Anschutz, Neill Epperson, menambahkan bahwa kondisi biologis sebelum pembuahan dapat berubah akibat pengalaman hidup dan berpengaruh pada keturunan.
Para peneliti menegaskan bahwa stres kronis seperti merawat anggota keluarga yang sakit, tekanan kerja tinggi, atau masalah finansial dapat meningkatkan kadar molekul tersebut dalam sperma.
“Ini seperti stres seorang ayah secara diam-diam mendorong pengaturan pertumbuhan tubuh, dengan efek yang muncul kemudian dalam kehidupan,” ujar Bale.
Para peneliti juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebelum pembuahan, termasuk mengelola stres, cukup tidur, pola makan sehat, serta mendapatkan dukungan emosional.
“Merawat diri kita sendiri sebelum pembuahan adalah bagian penting dari perencanaan untuk memiliki anak yang sehat,” tambah Bale.