Loading
Ilustrasi tidur pakai tutup mata 9Gemini AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Profesor psikologi, neurosains, imunologi, dan genetika medis dari Ohio State University, Gary L. Wenk, Ph.D., mengungkap bahwa gangguan ritme sirkadian dapat berdampak serius terhadap kesehatan manusia.
Dalam artikelnya yang dipublikasikan di Psychology Today pada Rabu (27/5/2026), Wenk menjelaskan bahwa ritme sirkadian merupakan sistem biologis tubuh yang mengatur pola bangun, tidur, makan, hingga fungsi organ mengikuti siklus alami siang dan malam.
Menurutnya, tubuh manusia dirancang untuk aktif saat matahari bersinar dan beristirahat ketika malam tiba.
Baca juga:
Studi: Puasa Meningkatkan Kesehatan Anda“Jam biologis di dalam tubuh membutuhkan sinyal cahaya matahari untuk tetap sinkron dan bekerja optimal,” jelas Wenk.
Namun, gaya hidup modern membuat banyak orang terlalu lama berada di dalam ruangan, kurang terkena cahaya alami, serta terbiasa begadang dan makan larut malam.
Wenk menyoroti hasil penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam atau lebih dari delapan jam per hari dapat mempercepat penuaan organ tubuh.
Kurang tidur juga dikaitkan dengan penurunan sistem imun, obesitas, diabetes, gangguan metabolisme, peradangan sendi, hingga penurunan fungsi kognitif.
Paparan cahaya juga memainkan peran penting dalam menjaga kualitas tidur dan kesehatan.
Cahaya biru terang pada pagi hari membantu menyinkronkan jam biologis tubuh, meningkatkan fokus dan kewaspadaan pada siang hari, serta memicu produksi melatonin pada malam hari agar tubuh siap tidur.
Sebaliknya, paparan cahaya biru dari layar ponsel, televisi, dan lampu pada malam hari dapat menghambat produksi melatonin dan membuat tidur menjadi lebih sulit.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa terlalu sedikit paparan cahaya pada siang hari dan terlalu banyak cahaya pada malam hari dapat memperpendek harapan hidup hingga lima tahun.
Selain pola tidur, kebiasaan makan juga memengaruhi ritme sirkadian tubuh.
Wenk menjelaskan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk mencerna makanan sepanjang hari, terutama pada malam hari.
Mengonsumsi banyak kalori saat malam dapat mengganggu jam biologis organ tubuh seperti hati dan ginjal, meningkatkan kadar gula darah, hingga memicu insomnia.
“Mikrobioma usus juga tidak menyukai makanan yang dikonsumsi larut malam dan hal itu bisa menyebabkan gangguan tidur,” tulisnya.
Pola makan tinggi gula dan lemak jenuh juga diketahui membuat otak lebih banyak berada dalam fase tidur ringan dan menyebabkan seseorang lebih sering terbangun di malam hari.
Sebaliknya, konsumsi buah dan sayuran pada siang hari dinilai membantu meningkatkan kualitas tidur.
Wenk menyarankan masyarakat untuk lebih banyak terkena cahaya alami di pagi dan siang hari, mengurangi paparan layar pada malam hari, serta menghindari kebiasaan makan terlalu larut.
Selain itu, meredupkan lampu pada malam hari dan menghentikan penggunaan televisi maupun ponsel beberapa jam sebelum tidur dinilai dapat membantu tubuh beristirahat lebih optimal.