Riset Ungkap Lansia yang Rutin Memasak Punya Risiko Demensia Lebih Rendah


 Riset Ungkap Lansia yang Rutin Memasak Punya Risiko Demensia Lebih Rendah Ilustrasi wanita memasak di dapur. (Pexels)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas sederhana seperti memasak di rumah dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan makan. Kebiasaan ini ternyata berkaitan dengan penurunan risiko demensia pada kelompok lanjut usia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health dan mengungkap bahwa lansia yang memasak setidaknya sekali dalam sepekan memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami demensia dibandingkan mereka yang jarang berada di dapur.

Melansir dari laman Eating Well, Sabtu (6/6/2026), penelitian ini menggunakan data lebih dari 10.000 warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang menjadi bagian dari proyek Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES). Para peserta dipantau selama kurang lebih enam tahun untuk melihat hubungan antara kebiasaan memasak, keterampilan memasak, dan risiko munculnya demensia.

Dalam studi tersebut, frekuensi memasak diukur berdasarkan seberapa sering peserta menyiapkan makanan sendiri, bukan mengonsumsi makanan siap saji. Peneliti juga mengevaluasi kemampuan memasak melalui sejumlah keterampilan dasar, seperti mengupas buah, merebus sayuran, hingga memanggang ikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang memasak setidaknya satu kali dalam seminggu memiliki risiko demensia sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang memasak kurang dari sekali seminggu. Temuan ini tetap konsisten meski peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kondisi kesehatan peserta sejak awal penelitian.

Menariknya, manfaat terbesar justru terlihat pada kelompok lansia yang memiliki kemampuan memasak relatif rendah. Pada kelompok ini, kebiasaan memasak minimal sekali dalam seminggu dikaitkan dengan risiko demensia sekitar 70 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memasak.

Menurut para peneliti, memasak merupakan aktivitas yang melibatkan banyak fungsi otak secara bersamaan. Seseorang perlu merencanakan menu, mengambil keputusan, mengingat langkah-langkah memasak, melakukan aktivitas fisik, hingga berinteraksi dengan orang lain saat menyiapkan makanan. Kombinasi berbagai aktivitas tersebut diduga membantu menjaga fungsi kognitif tetap aktif seiring bertambahnya usia.

Penelitian ini juga menemukan bahwa peserta yang sejak awal memiliki keterampilan memasak tinggi memang cenderung memiliki risiko demensia lebih rendah. Namun, peningkatan frekuensi memasak tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada kelompok tersebut.

Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian belum dapat membuktikan bahwa memasak secara langsung menyebabkan penurunan risiko demensia. Selain itu, penelitian hanya dilakukan pada populasi lansia di Jepang sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama di negara lain yang memiliki budaya, pola makan, dan kebiasaan memasak berbeda.

Meski demikian, temuan ini memperkuat pandangan bahwa memasak di rumah dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana yang mendukung kesehatan otak pada usia lanjut. Selain membantu menjaga fungsi kognitif, kegiatan memasak juga berpotensi memberikan manfaat lain, mulai dari mendorong pola makan yang lebih sehat hingga meningkatkan interaksi sosial yang penting bagi kualitas hidup lansia.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru