Loading
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan saat memberikan keterangan di Mapolrestabes Bandung, Kota Bandung, Kamis (8/1/2026). (ANTARA)
BANDUNG, ARAHKITA.COM - Kepolisian Daerah Jawa Barat mengerahkan sekitar 3.000 personel gabungan untuk mengamankan pertandingan sarat gengsi antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Duel klasik tersebut akan berlangsung pada pekan ke-17 Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1/2026).
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan menyampaikan bahwa aparat keamanan telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, mulai dari manajemen Persib Bandung hingga unsur pengamanan lainnya, demi memastikan laga berjalan aman dan kondusif.
“Pengamanan pertandingan Persib melawan Persija kami siapkan secara berlapis dan ketat. Tidak boleh ada celah gangguan keamanan, termasuk kehadiran suporter tim lawan di area stadion,” ujar Rudi di Bandung, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan terhadap penonton akan dilakukan di sejumlah titik dan tidak hanya sekali. Setiap suporter yang datang akan melalui proses pemeriksaan badan hingga tiga tahap sebelum masuk ke area stadion.
“Pemeriksaan dilakukan berulang untuk memastikan tidak ada barang berbahaya. Kami mengimbau penonton tidak membawa flare, senjata tajam, alkohol, maupun minuman keras,” kata Rudi seperti dikutip dari Antara.
Tak hanya fokus pada penonton, pihak kepolisian juga akan melakukan sterilisasi stadion sejak pagi hari sebelum pertandingan dimulai. Proses tersebut akan dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Bandung.
“Sterilisasi stadion dilakukan sejak pagi untuk memastikan area benar-benar aman sebelum laga dimulai,” ujarnya.
Kapolda Jabar menegaskan bahwa larangan kehadiran suporter tim tamu tetap diberlakukan sesuai regulasi PSSI dan menjadi bagian dari pengamanan utama.
“Kami minta semua pihak patuh pada aturan PSSI. Suporter tim lawan tidak diperkenankan hadir di stadion,” tegas Rudi.
Selain pengamanan fisik di lapangan, Polda Jawa Barat juga melakukan pemantauan menyeluruh di berbagai lini, termasuk ruang siber dan jalur masuk ke wilayah Jawa Barat.
“Kami juga memonitor media sosial dan ruang siber untuk mengantisipasi provokasi. Pengawasan dilakukan di pintu masuk Jawa Barat, baik melalui jalur kereta api maupun jalur darat,” tutupnya.