Loading
Ketua Umum DPP GMNI Sujahri Somar dalam acara pengukuhan dan reposisi organisasi di Jakarta, Kamis (15/1/2026). (ANTARA/HO-GMNI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Di tengah kepungan banjir dan longsor yang melanda Sumatera, sebuah pesan tegas menggema dari jantung ibu kota. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) baru saja mengukuhkan kembali posisinya: bukan di menara gading, melainkan tepat di samping rakyat yang menjadi korban krisis lingkungan.
Dalam acara pengukuhan dan reposisi organisasi di Jakarta (16/1/2026), Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar, menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar fenomena alam biasa.
Krisis Lingkungan adalah Isu Kemanusiaan
Bagi GMNI, bencana ekologis yang berulang adalah cermin retak dari pembangunan yang rakus. "Eksploitasi sering kali dilegalkan atas nama investasi. Dampaknya? Rakyat kecil selalu jadi yang pertama menanggung beban, tapi suara mereka terdengar paling akhir," tegas Sujahri.
GMNI melihat bahwa relasi antara kebijakan, manusia, dan alam saat ini sedang tidak sehat. Inilah alasan mengapa reposisi organisasi kali ini menekankan pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. Bukan sekadar aksi simbolik saat bencana jadi headline, tapi advokasi jangka panjang.
Digitalisasi Marhaenisme: Meluncurkan REDLAB
Menariknya, perjuangan GMNI kini merambah ke medan yang lebih modern: Ruang Digital. Menyadari bahwa opini publik kini dibentuk oleh algoritma dan big data, GMNI resmi meluncurkan REDLAB (Laboratorium Merah). REDLAB adalah laboratorium analitik media dan kecerdasan buatan (AI) yang bertujuan untuk:
Baca juga:
GMNI Tegaskan Keberpihakan: Saat Marhaenisme Melawan Krisis Lingkungan Lewat Teknologi AIInovasi GMNI.AI dan Buletin Zaken
Dari rahim REDLAB, lahir pula GMNI.AI—sebuah platform kecerdasan buatan untuk demokratisasi pengetahuan—serta Buletin Zaken yang menyajikan analisis data berbasis rasionalitas.
"Marhaenisme tidak anti-teknologi. Justru ideologi harus memimpin teknologi, bukan malah tunduk padanya," tambah Sujahri dikutip Antara.
Melalui langkah ini, GMNI ingin membuktikan bahwa organisasi mahasiswa tertua ini tetap adaptif. Mereka siap menghadapi masa depan dengan tetap memegang teguh semangat Marhaenisme: berdiri tegak melawan ketimpangan, baik di lapangan hijau yang rusak maupun di ruang digital yang penuh manipulasi.