Loading
Penumpang mencetak tiket kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (3/4/2025). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Tekanan ekonomi akibat inflasi maupun penyesuaian subsidi memang membuat daya beli masyarakat terasa makin ketat. Namun, hal itu dinilai belum cukup kuat untuk “mengerem” tradisi mudik.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno memprediksi mobilitas mudik Lebaran 2026 tidak akan turun drastis. Menurutnya, mudik bukan sekadar perjalanan, melainkan kebutuhan kultural yang melekat kuat pada masyarakat Indonesia.
“Prediksi mobilitas mudik Lebaran 2026 di tengah kondisi ekonomi saat ini menunjukkan fenomena mudik tetap jalan, dompet tetap perhitungan,” kata Djoko dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Lebaran Berbeda dari Nataru: Tradisi Lebih Kuat, THR Jadi Pendorong
Djoko menilai, ada perbedaan karakter perjalanan antara Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan Lebaran. Pada momen Nataru, masyarakat cenderung lebih selektif karena perjalanan bersifat opsional dan identik dengan wisata.
Apalagi, akhir tahun sering berbarengan dengan cuaca ekstrem dan kebutuhan finansial lain, seperti persiapan biaya sekolah semester genap. Alhasil, banyak orang memilih menahan diri.
Sementara itu, Lebaran punya daya dorong yang berbeda. Selain didorong oleh pencairan THR, ada unsur tradisi yang lebih kuat: pulang kampung dan bertemu keluarga menjadi agenda yang sulit ditawar.
Djoko menyebut, mudik Lebaran 2026 tetap berpotensi menjadi puncak mobilitas manusia terbesar di Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan periode Nataru 2025/2026 yang di sejumlah titik terasa lebih lengang.
“Non-Negosiasi”: Mudik Lebaran Dinilai Bukan Sekadar Wisata
Ia menegaskan, Nataru pada dasarnya adalah momen liburan. Orang boleh pergi, boleh juga tidak. Berbeda dengan Lebaran yang membawa nilai religius dan budaya.
“Kalau Nataru lebih ke wisata, mudik Lebaran itu kewajiban kultural dan religius yang sifatnya non-negosiasi bagi mayoritas penduduk,” kata Djoko dikutip Antara.
Karena itu, kata Djoko, kelancaran lalu lintas selama Nataru tidak otomatis menjadi gambaran kondisi mudik Lebaran nanti. Dua momen itu memiliki perilaku perjalanan yang berbeda.
Pemudik Motor Diprediksi Dominan saat Lebaran
Djoko juga menyoroti perbedaan dari sisi moda transportasi. Saat Nataru, perjalanan antar kota jarak jauh dengan sepeda motor biasanya tidak terlalu tinggi karena mayoritas orang berwisata dan memilih moda yang lebih nyaman.
Sebaliknya, pada mudik Lebaran, pola perjalanan berubah total. Tujuan utama pemudik adalah pulang kampung, dan penggunaan sepeda motor untuk jarak jauh cenderung meningkat tajam.
“Orang yang bermobilitas juga akan lebih banyak saat mudik Lebaran ketimbang Nataru,” ujar Djoko.
Data Kemenhub: Lebaran 2025 Turun Tipis, Angkutan Umum Justru Naik
Sebagai gambaran, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat jumlah orang yang melakukan perjalanan dalam dan antarprovinsi selama Lebaran 2025 mencapai sekitar 154,6 juta orang. Angka itu turun 4,69% dibanding realisasi 2024 yang mencapai 162,2 juta orang.
Namun Kemenhub menegaskan penurunan tersebut tidak signifikan dan tidak berkaitan langsung dengan turunnya daya beli.
Selain itu, total pergerakan masyarakat secara nasional selama angkutan Lebaran 2025 (21 Maret–11 April 2025) mencapai sekitar 358.211.415 pergerakan. Angka ini merujuk pada mobile positioning data (MPD) dari operator seluler.
Menariknya, penggunaan angkutan umum justru mengalami peningkatan. Data aplikasi strategi hub Kemenhub mencatat realisasi penumpang angkutan umum pada periode yang sama mencapai 27.505.543 penumpang, naik 8,50% dibanding 2024 yang sebesar 25.349.916 penumpang.
Proyeksi Lebaran 2026 Masih Dihitung
Untuk saat ini, proyeksi resmi jumlah orang yang akan melakukan perjalanan pada Lebaran 2026 masih dalam tahap perhitungan. Meski begitu, sejumlah indikator menunjukkan satu hal: mudik kemungkinan tetap ramai, walaupun masyarakat lebih berhitung dalam pengeluaran.
Dengan kata lain, mudik boleh jadi tetap “jalan”, tetapi pola konsumsi pemudik akan berubah—lebih hemat, lebih selektif, dan lebih fokus pada tujuan utama: pulang.