Loading
Ilustrasi Masyarakat menggunakan payung saat hujan. (Antara)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Jabodetabek selama sepekan ke depan. Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer regional yang masih aktif.
Prakirawan Cuaca BMKG, Jatmiko, menjelaskan bahwa penguatan Monsun Asia yang disertai seruakan udara dingin atau cold surge dari daratan Asia menjadi faktor utama meningkatnya potensi hujan di wilayah Jawa, termasuk Jabodetabek.
“Penguatan Monsun Asia yang diikuti cold surge memicu terbentuknya daerah konvergensi angin di wilayah Jawa, sehingga pertumbuhan awan hujan menjadi lebih intens dan meluas,” ujar Jatmiko saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
BMKG mencatat, dalam beberapa hari terakhir hujan di Jabodetabek berlangsung dengan durasi yang cukup panjang. Analisis tim meteorologi menunjukkan kondisi atmosfer saat ini masih mendukung pembentukan awan hujan secara merata.
“Dalam sepekan ke depan masih terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah Jabodetabek,” kata Jatmiko seperti dikutip dari Antara.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, dalam 10 hari terakhir wilayah Jabodetabek mengalami hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga ekstrem. Curah hujan tertinggi tercatat terjadi pada 18 Januari 2026 dengan intensitas mencapai 267 milimeter per hari.
Sementara itu, pada Jumat (23/1/2026) hingga pukul 15.00 WIB, curah hujan yang tercatat di wilayah Jabodetabek mencapai 189 milimeter per hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, seperti genangan air, banjir, hingga terganggunya aktivitas harian, khususnya di daerah rawan bencana hidrometeorologi.
“Dengan dinamika atmosfer yang masih aktif, potensi cuaca ekstrem juga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan, meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur,” ujar Jatmiko.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan mengambil langkah antisipatif guna mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat kondisi cuaca ekstrem.