Sensei Suika Terayama bersama karya tulisan indahnya kaligrafi Shodo. (Foto: Laras)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ternyata menulis indah juga bisa mengubah karakter, terutama anak-anak dari seseorang yang pemarah menjadi sabar dan tenang.
Kok bisa? "Menulis indah adalah sesuatu yang sangat baik dalam bidang pendidikan, untuk membentuk karakter seseorang ke arah yang lebih positif," kata Suika,Terayama, sensei top Shodoka dari Jepang, di Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Terayama menuturkan Shodo banyak sekali manfaatnya bagi kehidupan manusia. Mencerminkan sebuah karakter dari seorang manusia. Shodo merupakan sebuah budaya dan seni yang sangat indah dan kuat penampilannya.
Baca juga:
Indonesia Berdzikir, tvOne Rayakan 18 Tahun dengan Dialog Kebangsaan dan Doa untuk NegeriDia menjelaskan untuk mengetahi karakter seseorang bagus atau tidak, bisa dilihat dari hasil tulisan tangannya berupa kaligrafi (Shodo) dalam bahasa Jepang.
Shodo saat ini lagi trend dalam masyarakat Jepang. Merupakan tulisan tangan asli yang bisa menimbulkan rasa percaya diri dan mengubah karakter seseorang menjadi positif.
"Shodo sudah ada di Jepang sejak 600 tahun lalu. Sekarang mulai dibangkitkan kembali. Banyak komunitas menulis indah ini muncul dan membawa aura positif bagi masyarakat," kata sensei Suika Terayama, guru Shodo terbaik di Jepang.
Menurut rencana top Shodo-ka sensei tersebut, akan melakukan performance pada kanvas besarnya dengan penulisan Shodo bagi masyarakat Indonesia di NAM Hotel Kemayoran, Jumat, 26 Juli 2019.
Penampilan sensei Terayama tersebut, tambah Richard Y. Susilo, Komisaris Pandan College yang membawa Shodoka dan timnya ke Indonesia, juga disertai dengan informasi bagaimana cara terbaik sekolah ke Jepang, dan kiat bisa bekerja di Jepang. Apalagi adanya sistem baru Tokutei Ginou (TG).
Menurut Terayama, ada tiga macam penulisan Shodo. Yaitu Hiragana, Katakana, dan Kanji. Bagi pemula mulai belajar menulis Shodo dengan cara Hiragana. Kemudian meningkat ke Katakana, dan terakhir dengan penulisan Kanji.
Menulis Shodo memang perlu kesabaran dan ketelatenan. Seseorang yang rutin belajar dan menulis Shodo, sekitar 10 tahun baru bisa lancar dan memahami menulis indah tersebut.
Terayama menjelaskan budaya menulis indah ala Jepang itu kini kembali populer di Negeri Sakura tersebut, seiring dengan semakin banyaknya orang asing datang ke Jepang.
Untuk memasyarakatkan shodo ke Indonesia, Terayama juga menggelar seminar di Denpasar, Bali, pada Sabtu (27/7/2019).
Saat ini di Jepang, lanjutnya, berbagai perusahaan, kafe dan toko kini banyak menggunakan lukisan dan tulisan Shodo untuk memperindah dan meningkatkan motivasi kerja.
"Bahkan menu makanan ditulis dalam bentuk huruf Shodo, sehingga semakin memperkental rasa Jepang. Saya senang sekali kalau Shodo juga bisa memasyarakat di Indonesia. Karena kaligrafi Jepang ini memang sangat positif bagi kehidupan manusia. Sehingga membantu karakter manusianya jauh lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya,” ujar Terayama. (Laras)