Loading
Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do melakukan penanaman anakan Gayam yang berlokasi di mata air Lowo Tu'u Tabalape tepat di bawah puncak gunung Amegelu. Selasa (15/12/2020) lalu. (Foto: Arahkita/Vhiand Dhalu)
NAGEKEO, ARAHKITA.COM - Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do bersama warga kecamatan Aesesa Selatan melakukan penanaman anakan Gayam yang berlokasi di mata air Lowo Tu'u Tabalape tepat di bawah puncak gunung Amegelu. Selasa (15/12/2020) lalu.
Hadir dalam penanaman tersebut yaitu Ibu Camat Aesesa Selatan, Jean Seke, Kepala Desa Tengatiba, Kepala Desa Langedhawe dan Penjabat Kepala Desa Tutubhada bersama warga 3 desa tersebut.
Bupati berharap agar semua warga bahu membahu membangun daerahnya dengan selalu gemar menanam serta senantiasa menjaga dan melestarikan alam sekitar khususnya di daerah mata air.
"Anak muda adalah tulang punggung bangsa, garda terdepan dalam melakukan perubahan.
Perjalanan yang sangat menguras tenaga, namun bisa teratasi karena suguhan keindahan alam yang masih asli dan eksotik.
Baca juga:
Berbagi Ilmu dengan Calon Anggota Elpala SMA 68 Jakarta, Dar Edi Yoga Prihatin atas Kerusakan AlamSementara Relawan dari puskesmas Jawakisa Ferdinandus Nuu kepada arahkita.com menyatakan bahwa tanaman Gayam merupakan salah satu tumbuhan yang langka. Menurutnya, tumbuhan langka tersebut masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pada umumnya.
"Saya secara pribadi merasa terpanggil untuk ikut serta dalam kegiatan penanaman 1000 anakan pohon gayam disekitar mata air Tabalape ini. Karena mata air di sini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat Aesesa Selatan. Sudah menjadi rahasia umum kalau di Aesesa selatan sangat kekurangan sumber air bersih, jadi perlu adanya kegiatan ini untuk menyelamatkan lingkungan di sekitar mata air,"kata Erdin.
Erdin uga menyampaikan apresiasi yang tinggi untuk Camat Aesesa Selatan karena sudah berinisiatif untuk melakukan penanaman pohon di mata air Tabalape. Dia berharap agar masyarakat selalu menjaga dan tidak membakar hutan dengan tidak bertanggungjawab.
"Hutan di sekitar mata air ini, salah satu aset yang sangat berharga untuk masyarakat dan anak cucu generasi baru yang akan datang. Sebagai Relawan, kepada masyarakat Aesesa Selatan jika mau berburu sebagai ritual adat tahunan itu oke-oke saja, yang penting jangan membakar hutan,"tegasnya.
Laporan: Vhiand Dhalu