Loading
Kepala Center for Islamic Studies in Finance, Economics and Development (CISFED) Farouk Abdullah Alwyni. ANTARA/HO-CISFED.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan global kembali memanas. Di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia didorong untuk tidak hanya menjadi penonton.
Chairman Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Farouk Abdullah Alwyni, menilai pemerintah Indonesia perlu mengambil sikap tegas dan aktif dalam merespons eskalasi militer yang terjadi.
Menurut Farouk, tindakan militer yang dilakukan bukan sekadar dinamika geopolitik biasa. Ia menilai ada pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara.
“Eskalasi ini menunjukkan pola agresi yang tidak bisa lagi ditoleransi oleh komunitas internasional,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Indonesia Tak Bisa Lagi Pasif
Farouk menegaskan, sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian dunia, Indonesia tidak bisa bersikap netral tanpa arah.
Justru sebaliknya, Indonesia dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk tampil sebagai kekuatan penyeimbang di tengah konflik global.
Ia pun secara khusus meminta Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis yang konkret dan terukur.
Empat Langkah Strategis yang Didorong CISFED
Untuk merespons situasi ini, Farouk mengusulkan beberapa langkah penting:
1. Mengingatkan AS soal hukum internasional
Indonesia diminta secara aktif mengingatkan Amerika Serikat bahwa penggunaan kekuatan militer tanpa dasar hukum yang sah merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia juga mendesak penghentian segera agresi militer terhadap Iran.
2. Kecaman tegas terhadap Israel
Pemerintah juga didorong untuk menyampaikan kecaman tanpa ambiguitas terhadap tindakan Israel. Sikap ini dinilai penting untuk menjaga konsistensi moral dan arah politik luar negeri Indonesia.
3. Mengurangi ketergantungan pada AS
Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan geopolitik dan geoekonomi terhadap Amerika Serikat. Caranya, dengan memperkuat kerja sama strategis bersama negara-negara Muslim dan berkembang, sekaligus meningkatkan kemandirian nasional.
4. Memanfaatkan opini publik globalFarouk menilai, tidak semua masyarakat Amerika Serikat mendukung keterlibatan militer negaranya. Ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendorong tekanan moral dan diplomatik di tingkat internasional.
Dorongan Menuju Dunia Multipolar
Lebih jauh, Farouk juga menekankan pentingnya mendorong terbentuknya tatanan dunia multipolar—sebuah sistem global yang lebih adil dan tidak didominasi satu kekuatan besar saja.
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai bisa memainkan peran strategis sebagai bridge builder atau jembatan diplomasi.
Artinya, Indonesia dapat memfasilitasi dialog antara Iran, negara-negara Teluk, dan pihak terkait lainnya demi menciptakan stabilitas kawasan berbasis kerja sama, bukan konflik.
Saatnya Indonesia Tampil sebagai Pemimpin
Dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan amanat konstitusi, Indonesia disebut memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga perdamaian dunia.
Farouk menegaskan, momentum ini seharusnya menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya di panggung global.
“Sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi pengamat, tetapi tampil sebagai aktor aktif yang berpihak pada keadilan,” pungkasnya dikutip dari Antara.