Loading
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menjawab pertanyaan wartawan terkait Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (MDCP) antara Indonesia dan Amerika Serikat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indonesia dan Amerika Serikat resmi meningkatkan hubungan pertahanan ke level lebih tinggi melalui Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama atau Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Langkah ini dinilai sebagai strategi penting untuk memperkuat sistem pertahanan nasional sekaligus memperluas diplomasi militer Indonesia.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menilai kerja sama ini bukan sekadar simbol diplomatik, tetapi juga bagian dari upaya nyata dalam memperkuat kapasitas pertahanan Indonesia.
“Ini langkah penting untuk memperkuat pertahanan kita, sekaligus memantapkan diplomasi militer Indonesia di tengah dinamika global,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (15/4/2026).
Menurut Dave, kemitraan ini juga membantu TNI agar terus adaptif terhadap perkembangan geopolitik global. Selain itu, kerja sama ini membuka peluang peningkatan pemahaman terhadap teknologi pertahanan terbaru.
Fokus pada Teknologi dan Latihan Militer
Salah satu poin utama dalam MDCP adalah penguatan kerja sama di bidang teknologi serta latihan militer bersama. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesiapan operasional TNI.
Tak hanya itu, kemitraan ini juga membuka peluang kolaborasi di berbagai sektor pertahanan lainnya di masa depan.
Resmi Disepakati di Pentagon
Kesepakatan MDCP dicapai dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon, Amerika Serikat, pada 13 April 2026.
Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menyebut bahwa kedua negara sepakat meningkatkan hubungan pertahanan bilateral sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
MDCP sendiri memiliki tiga pilar utama, yaitu:
Dalam implementasinya, kedua negara juga berkomitmen memperluas latihan militer, termasuk program Super Garuda Shield, yang selama ini menjadi simbol kerja sama pertahanan Indonesia dan AS.
Perkuat Stabilitas Kawasan
Kerja sama ini tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas kawasan. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kompleksitas latihan militer guna memperkuat kemampuan kolektif dalam menjaga perdamaian.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyebut kemitraan ini sebagai refleksi kekuatan hubungan strategis kedua negara.
Tetap Jaga Kedaulatan Nasional
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan RI memastikan bahwa kerja sama ini tetap berjalan dalam koridor politik luar negeri bebas aktif dan menghormati kedaulatan negara dikutip Antara.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa MDCP merupakan peluang untuk meningkatkan kapasitas pertahanan nasional tanpa mengorbankan prinsip kedaulatan.
Ia juga meluruskan isu terkait izin lintas udara pesawat AS (overflight clearance), yang disebut tidak termasuk dalam kesepakatan MDCP.
“Hal itu tidak ada dalam MDCP dan masih dalam tahap pertimbangan terpisah,” tegasnya.