Selasa, 27 Januari 2026

Mengenang Gagasan Besar Solihin GP Menyatukan Jawa Barat dan Jakarta


 Mengenang Gagasan Besar Solihin GP Menyatukan Jawa Barat dan Jakarta  Letjen TNI (Purn) Solihin Gautama Purwanegara. (Foto Antara)

Oleh: Thomas Koten

MENINGGALNYA Letjen TNI (Purn.) Solihin Gautama Purwanegara, tentu meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya bagi keluarga tercinta, tetapi juga Indonesia, terutama masyarakat Jawa Barat.

Sosok sang tokoh Siliwangi yang lahir 21 Juli 1926 dan wafat 5 Maret 2024 itu, memang sangat dekat dengan masyarakat Jawa Barat. Pun dengan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah yang pernah bersentuhan dengan Solihin GP.

Maka, munculah berbagai ungkapan belasungkawa dari berbagai kalangan untuk mengiringi kepergian Mang Ihin, demikian Solihin GP sering disapa dalam kesehariannya.

Salah satu ungkapan belasungkawa itu datang dari Frans Go, tokoh NTT. Kenapa Frans Go sampai perlu menyampaikan rasa belasungkawa? Ungkapan belasungkawa Frans Go bisa dikatakan mewakili suara dari kami warga NTT yang ikut merasakan kehilangannya lantaran Mang Ihin selama hidupnya telah memberikan perhatian khusus untuk pembangunan NTT, terutama di bidang pertanian.

Di zaman Mang Ihin jadi Gubernur Jawa Barat dengan kesuksesannya membawa Jawa Barat ke arah swasembada pangan, dia juga membantu NTT dalam usaha yang sama, yaitu memasyarakatkan padi yang terkenal dengan nama padi Gogo Rancah.

Mang Ihin membangun kerja sama mengembangkan padi Gogo Rancah bersama gubernur NTT ketika itu, Ben Mboy. Pengembangan padi Gogo Rancah di NTT zaman Ben Mboy menjadi sebuah fenomena yang sangat megagumkan. Sayang program tersebut, kini sudah jadi cerita masa lalu.

Pribadi tokoh Siliwangi yang oleh Frans Go dikatakan penuh senyum itu, ketika menjabat gubenur atau ketika masih bertugas di militer selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi NTT. Seperti ada ikatan batin dan perhatian untuk masyarakat NTT.

Sang pejuang yang dikenal gigih mengatasi krisis pangan tersebut merupakan tokoh militer yang disegani di zamannya. Selain menjadi gubernur Jawa Barat tahun 1970-1975, Mang Ihin juga pernah dipercaya menjadi Panglima Kodam X1V/Hasanuddin Makasar tahun 1964-1968, juga Gubernur Akabri Umum dan Darat Magelang 1968-1970.

Karier militernya dimulai ketika masa revolusi sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Kabupaten Bogor, kemudian bergabung dengan Divisi Siliwangi. Setelah menjabat Gubernur Jawa Barat tahun 1970-1975, Mang Ihin menjadi Sekertaris Operasional Pembangunan 1977-1992. Mang Ihin dikatakan sangat sukses menjadi gubernur ketika memimpin Jawa Barat, sehingga kredibilitasnnya sangat disegani warga Jawa Barat.

Perjuangannya ketika menjadi gubernur Jawa Barat membuatnya sangat dikenang. Selain berjuang mengatasi krisis pangan ketika itu, Mang Ihin juga dikenal sebagai pejuang lingkungan hidup, dengan bertindak sebagai pendiri Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tata Sunda (DKLTS).

Ide dan Gagasan BesarMeninggalnya orang besar, akan membuka kembali kenangan akan ide-ide besar atau gagasan cemerlang yang lahir selama mereka masih hidup.

Ada satu gagasan besar dan berani dari Mang Ihin ketika awal menjadi Gubernur Jawa Barat. Gagasan yang dikenang sampai hari ini, ‘menciptakan’ sengketa tingkat tinggi antara Jawa Barat dengan Jakarta.

Adalah sengketa tanding seru antara dua jenderal dengan karakter yang kuat dan selalu siap pasang badan dengan ide dan gagasan serta prinsip perjuangan yang mereka jalani.

Sengketa itu antara Letjen TNI Solihin Gautama Purwanegara dengan Letjen Marinir Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang sangat disegani di masanya, dan sangat dikenang hingga hari ini tentang keberanian dan kesuksesannya membangun Jakarta yang saat itu dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, tetapi bisa disulap menjadi Jakarta yang hebat, kota yang berwibawa.

Gagasan berani Solihin adalah menyatukan Jawa Barat dengan Jakarta dalam satu teritori kekuasaan yang dipastikan sangat luas, kuat dan berwibawa.

Saat itu, Solihin menganjurkan kepada Ali Sadikin untuk belajar ke pngalaman nenek moyang mereka saat Galuh pindah ke Padjadjaran, Bogor dengan dasar keinginannya adalah mau menyatukan Jawa Barat dengan Jakarta Utara Sunda Kelapa, dari Bogor sampai Banten hingga Cirebon.

Mang Ihin ingin agar Jawa Barat pindah dari Bandung ke Jakarta yang melingkupi seluruh Jakarta saat ini hingga ke Kepulauan Seribu.

Bagaimana jadinya kalau gagasan besar dan berani itu diterima oleh Ali Sadikin yang waktu itu sedang berada di puncak popularitasnya dan Solihin sendiri baru menjabat Gubernur Jawa Barat, lalu anjuran itu berkembang menjadi sebuah keputusan dan ditentang oleh warga Jawa Barat dan Jakarta?

Bayangkan, misalnya ide itu menyulut ambisi dan harga diri warga Jawa Barat dan warga Jakarta, mereka akan berdiri membela daerah teritorial kekuasaannya, para warga juga tentu membela harga diri pemimpinnya masing-masing.

Syukurlah ide yang menuju sengketa tingkat tinggi antara dua jenderal itu belum menguras energi warga Jawa Barat dan Jakarta. 

Penulis adalah Analis Sosial-Politik.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru