Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya dalam pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat kinerja positif perdagangan berjangka komoditas (PBK) Indonesia sepanjang tahun 2025. Nilai transaksi dan volume perdagangan menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, memperkuat optimisme industri memasuki 2026.
Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menyampaikan bahwa nilai nominal (notional value) transaksi PBK selama 2025 mencapai Rp48.867 triliun, tumbuh 49,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, volume transaksi tercatat 14,56 juta lot, meningkat 12 persen yoy.
Pernyataan tersebut disampaikan Tirta saat membuka Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 di Jakarta, Jumat. Ia menegaskan bahwa capaian 2025 menjadi fondasi optimisme terhadap target pertumbuhan PBK pada tahun ini.
“Target tahun 2026 disusun berdasarkan capaian 2025 yang memberi keyakinan bahwa perdagangan berjangka komoditi Indonesia dapat terus tumbuh,” ujar Tirta.
Timah, Emas Digital, hingga CPO Masih Dominan
Bappebti mencatat perdagangan fisik timah murni batangan ekspor tetap menunjukkan performa solid. Sepanjang 2025, nilai transaksinya mencapai Rp26,98 triliun dengan volume 9.380 lot.
Sementara itu, emas fisik digital kian menguat sebagai produk favorit masyarakat. Nilai transaksinya menembus Rp107,43 triliun dengan volume perdagangan mencapai 55,58 metrik ton, mencerminkan meningkatnya minat terhadap instrumen investasi berbasis digital.
Di sisi lain, kontrak berjangka crude palm oil (CPO) juga berkontribusi dengan nilai transaksi Rp2,69 triliun dan volume 30.341 lot sepanjang tahun lalu.
Inovasi Produk Dorong Diversifikasi PBK
Tak hanya komoditas utama, sepanjang 2025 Bappebti juga mencatat pertumbuhan sejumlah produk dan inovasi PBK lainnya. Di antaranya kontrak Syariah Murabahah dengan nilai transaksi Rp693,47 miliar, kontrak berjangka Brent Crude Oil senilai Rp3,14 miliar, serta kontrak Renewable Energy Certificate (REC) yang membukukan transaksi Rp1,84 miliar.
Menurut Tirta, penguatan inovasi berbasis komoditas akan menjadi kunci agar PBK semakin berperan dalam mendukung perdagangan dan perekonomian nasional.
“Kami berharap transaksi PBK terus meningkat melalui inovasi yang relevan dan adaptif terhadap kebutuhan pasar,” katanya.
Tantangan 2026: Teknologi, Kepatuhan, dan Edukasi
Meski prospek pertumbuhan terbuka lebar, Tirta mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi pada 2026. Di antaranya penyesuaian teknologi, penguatan proses kepatuhan (compliance), serta peningkatan edukasi pasar.
Ia menilai tantangan tersebut bersifat jangka pendek, namun krusial untuk membuka potensi pertumbuhan PBK dalam jangka menengah dan panjang. Hal ini membutuhkan sinergi kebijakan lintas regulator.
Sebagai langkah antisipatif, Bappebti terus melakukan literasi perdagangan berjangka secara rutin, pemblokiran situs dan aktivitas PBK ilegal, serta kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.
“Kami mengajak seluruh stakeholder untuk bekerja lebih keras di 2026 demi memperkuat citra dan kepercayaan terhadap perdagangan berjangka komoditi Indonesia,” pungkas Tirta.