Loading
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta, Kamis (30/5/2024). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar Rupiah mengawali perdagangan Kamis (8/1/2026) dengan posisi stagnan di level Rp16.780 per dolar AS. Meski dibuka tenang, mata uang Garuda diprediksi bakal menghadapi tekanan berat sepanjang hari ini akibat sentimen global yang tak terduga: ambisi Amerika Serikat menguasai Greenland.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa Rupiah berisiko melemah ke kisaran Rp16.770 hingga Rp16.820. Selain menanti arah kebijakan suku bunga The Fed, pelaku pasar kini tengah menyoroti risiko geopolitik baru di wilayah Arktik.
Ambisi Trump dan Peta Geopolitik Baru
Gedung Putih secara terbuka menyatakan bahwa Presiden Donald Trump sedang aktif membahas rencana akuisisi Greenland. Langkah ini diambil untuk membendung pengaruh China dan Rusia di wilayah strategis tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa semua opsi kini tersedia di meja perundingan.
Meskipun Trump mengedepankan jalur diplomasi, isu ini telah memicu reaksi keras dari para pemimpin Eropa dan menciptakan ketidakpastian di pasar global. Ketegangan seperti inilah yang biasanya membuat investor menarik modalnya dari pasar negara berkembang (termasuk Indonesia) dan beralih ke aset aman (safe haven).
Beban dari Dalam Negeri
Tak hanya faktor eksternal, Rupiah juga dihantui kondisi ekonomi domestik. Inflasi pada Desember 2025 tercatat merangkak naik ke level 2,9 persen. Kondisi ini diperparah dengan kekhawatiran melesetnya target pendapatan pajak pada APBN 2026.
"Defisit fiskal tahun ini berisiko melampaui angka 2,68 persen karena penerimaan pajak yang berpotensi tidak mencapai target," ungkap Rully kepada Antara. Kombinasi antara risiko geopolitik Arktik dan beban fiskal dalam negeri inilah yang diprediksi akan menjadi sentimen negatif utama bagi penguatan Rupiah dalam jangka pendek.