Loading
Tangkapan layar - Presiden Prabowo Subianto peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (ANTARA/YouTube Sekretariat Presiden)
BALIKPAPAN, ARAHKITA.COM - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak main-main dalam urusan nilai tambah sumber daya alam. Dalam waktu dekat, setidaknya enam hingga sebelas proyek hilirisasi baru dengan nilai investasi mencapai US$ 6 miliar (sekitar Rp93 triliun) siap tancap gas.
Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Presiden saat meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Senin (12/1/2026). Proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan jantung dari strategi besar nasional untuk mempercepat industrialisasi.
Investasi Besar dan Kesiapan SDM
Prabowo memprediksi arus modal asing akan mengalir deras seiring dimulainya proyek-proyek ini. Namun, ia juga memberikan catatan penting: Indonesia tidak boleh hanya jadi penonton.
"Kita harus benar-benar siapkan awak, manajemen, dan manajer-manajer muda yang handal untuk mengelola proyek-proyek besar ini," tegas Prabowo. Baginya, teknologi dan modal besar harus dibarengi dengan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten agar hasilnya maksimal bagi rakyat.
Visi Jangka Panjang: Agar Kekayaan Tak Direbut
Membangun industri yang kokoh memang tidak instan. Prabowo mengakui butuh waktu 10 hingga 20 tahun untuk mencapai tahap ideal. Namun, percepatan harus dilakukan sekarang agar Indonesia punya "taring" di persaingan global.
Ia mengingatkan bahwa memiliki kekayaan alam yang melimpah saja tidak cukup. Tanpa industri yang kuat, kekayaan tersebut justru berisiko dikuasai pihak lain tanpa memberi manfaat optimal bagi bangsa.
"Kalau kita tidak kuat tapi kita kaya, bisa-bisa kekayaan kita direbut. Kita butuh modal, tapi saya optimis dengan pengelolaan yang profesional, tujuan hilirisasi nasional pasti tercapai," pungkasnya dikutip Antara.