Loading
Ketua Umum HKI Akhmad Ma'ruf Maulana ditemui usai pelantikan Dewan Pengurus Harian HKI di Jakarta, Selasa (20/1/2025). di Jakarta, Selasa (ANTARA/Muzdaffar Fauzan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan geopolitik global yang makin panas ternyata membawa “efek samping” yang bisa menguntungkan Indonesia. Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyebut ada 10 perusahaan asal Rusia yang mulai merelokasi aktivitas bisnisnya ke Indonesia, seiring dinamika politik dan ekonomi dunia yang terus bergejolak.
Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana mengatakan, situasi global yang tidak menentu justru membuat banyak perusahaan memilih mencari basis produksi dan pasar baru yang lebih stabil. Dalam konteks ini, Indonesia dinilai punya posisi strategis—baik dari sisi pasar, lokasi, maupun peluang pengembangan kawasan industri.
“Rusia masuk 10 perusahaan,” ujar Ma’ruf saat ditemui di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Baca juga:
Komisi VII DPR Dorong BSD City Jadi Percontohan Kawasan Industri Terpadu dan Ramah LingkunganMeski begitu, Ma’ruf belum membeberkan nilai investasinya. Ia hanya menegaskan bahwa prosesnya sudah mengarah pada kesepakatan.“Enggak bisa disebutkan (angka investasi), tapi sudah deal,” katanya.
Drone, Farmasi, sampai Perkapalan
Baca juga:
Ekonomi Indonesia Triwulan III 2025 Tumbuh 5,04 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor UtamaHKI mengungkapkan, relokasi tersebut menyasar sektor industri yang tergolong strategis, mulai dari drone, farmasi, hingga perkapalan. Penempatan investasinya tidak hanya terfokus di Jawa, namun juga menyebar ke beberapa kawasan industri di luar Pulau Jawa.
Bagi Indonesia, masuknya pemain industri dari Rusia bisa menjadi tambahan energi baru—terutama jika relokasi ini berlanjut menjadi transfer teknologi, pembukaan lapangan kerja, dan penguatan rantai pasok dalam negeri.
Kawasan Industri RI Sedang Ekspansi, tapi…
Ma’ruf menjelaskan, kawasan industri di Indonesia saat ini sedang memasuki fase ekspansi besar. Bahkan, ia memperkirakan sekitar 70% kawasan industri berada dalam tren perluasan.
Namun, di balik peluang, masih ada “rem” yang dianggap menghambat laju. Salah satunya adalah tumpang tindih aturan yang membuat pergerakan investasi jadi kurang lincah.
“Rata-rata ekspansi. Cuma ada tumpang tindih aturan yang tidak bisa HKI ini lebih leluasa, lebih cepat bergeraknya,” ujarnya.
Karena itu, HKI mendorong pembahasan RUU Kawasan Industri agar segera tuntas. Harapannya, regulasi yang lebih jelas dapat mempercepat realisasi investasi, termasuk relokasi dari negara-negara yang terdampak gejolak geopolitik.
Geopolitik Global Memanas, Gelombang Investasi Ikut Bergerak
Dalam beberapa pekan terakhir, tensi geopolitik internasional meningkat tajam. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian adalah serangan besar-besaran Amerika Serikat ke Venezuela pada awal Januari. Situasi global juga ikut panas setelah muncul isu Greenland dan kebijakan tarif yang disebut akan diberlakukan AS terhadap sejumlah negara Eropa.
Rangkaian peristiwa seperti ini memunculkan efek domino. Di tengah ketidakpastian, sebagian perusahaan memilih mengambil langkah cepat—memindahkan pusat produksi, mencari wilayah yang dianggap lebih aman, atau memperkuat jalur distribusi baru. Dan dari situ, peluang Indonesia ikut terbuka lebar.
Bagi HKI, tantangannya tinggal satu: memastikan ekosistem kawasan industri Indonesia benar-benar siap, cepat, dan tidak tersandera regulasi yang saling bertabrakan. Jika itu bisa dituntaskan, relokasi investasi bukan cuma sekadar wacana—melainkan momentum ekonomi yang nyata.