Kamis, 05 Februari 2026

Danantara Bidik Saham BEI, Ekonom Nilai Bisa Perkuat Tata Kelola Pasar Modal


 Danantara Bidik Saham BEI, Ekonom Nilai Bisa Perkuat Tata Kelola Pasar Modal Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet. ANTARA/HO-Core/am.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketertarikan Danantara Indonesia untuk menjadi calon pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca-demutualisasi dinilai bukan sekadar langkah bisnis biasa. Dari kacamata ekonomi, langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat fondasi kelembagaan pasar modal nasional.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, demutualisasi bursa pada dasarnya memang diarahkan untuk mendorong pengelolaan BEI yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Dalam konteks itu, kehadiran investor institusional seperti Danantara berpotensi memberi nilai tambah jika ditempatkan secara tepat.

Menurut Yusuf, peran Danantara akan berdampak positif apabila difokuskan sebagai investor strategis yang mendukung penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta modernisasi infrastruktur pasar. Dengan pendekatan tersebut, struktur pasar modal dinilai bisa menjadi lebih efisien dan sehat dalam jangka panjang.

Namun, ia mengingatkan bahwa aspek transparansi dan independensi tetap harus menjadi perhatian utama. Kepemilikan institusional memang dapat meningkatkan akuntabilitas, tetapi pasar juga sangat sensitif terhadap potensi konflik kepentingan.

Karena itu, keterlibatan Danantara perlu diatur secara jelas agar tidak memunculkan persepsi adanya pengaruh kebijakan yang terlalu besar dalam operasional bursa. Transparansi, kata Yusuf, bukan hanya soal aturan administratif, tetapi juga soal kepercayaan pelaku pasar.

Isu independensi BEI juga menjadi sorotan penting. Idealnya, bursa berfungsi sebagai institusi pasar yang netral dan market driven. Jika porsi kepemilikan Danantara dirancang secara proporsional dan disertai tata kelola yang kuat, keberadaannya justru dapat membantu menjaga stabilitas dan profesionalisme bursa.

Sebaliknya, tanpa batasan yang tegas, ruang intervensi yang terlalu besar berisiko menimbulkan anggapan bahwa mekanisme pasar tidak lagi berjalan murni berdasarkan dinamika pasar.

Dari sisi investasi, keterlibatan Danantara juga dapat dibaca sebagai sinyal komitmen untuk memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia. Dampak positifnya akan semakin terasa bila diikuti dengan peningkatan likuiditas, pengembangan produk investasi, serta penguatan perlindungan investor.

Yusuf menambahkan, investor—terutama investor asing—sangat memperhatikan kualitas institusi pasar. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan dan penerapan tata kelola yang kredibel akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan dikutip Antara.

Sebelumnya, manajemen Danantara menyatakan minat untuk menjadi salah satu pemegang saham BEI setelah proses demutualisasi diterapkan. Terkait skema masuk, baik melalui penawaran umum perdana saham maupun mekanisme lainnya, masih dalam tahap kajian untuk mencari struktur yang paling ideal.

Sebagai informasi, demutualisasi merupakan proses perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi entitas berbentuk perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain. Skema ini dirancang untuk memisahkan kepentingan pengelola bursa dan anggota bursa, sehingga potensi benturan kepentingan dapat ditekan.

Pemerintah sendiri tengah mempercepat penyelesaian regulasi demutualisasi agar proses tersebut dapat berjalan tahun ini. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru