Loading
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE dan Senior Economist Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra memaparkan materi diskusi dalam forum tahunan World of Wealth (WoW) ke-23 di Jakarta. (ANTARA/HO-Standard Chartered)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perekonomian Indonesia pada 2026 diperkirakan memasuki babak baru yang lebih optimistis. Standard Chartered memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mampu tumbuh hingga 5,2 persen, naik dibandingkan perkiraan 2025 yang berada di kisaran 5 persen.
Senior Economist Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra menjelaskan, tren tersebut menunjukkan ekonomi nasional mulai bergerak ke fase pertumbuhan yang lebih siklikal dan stabil. Menurutnya, arah kebijakan moneter pada 2026 tetap akan dijalankan secara hati-hati oleh Bank Indonesia.
Bank sentral, lanjut Aldian, akan berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal—seperti nilai tukar dan arus modal—dengan kebutuhan untuk mendorong permintaan domestik. Langkah moderat ini dinilai penting agar momentum pemulihan ekonomi tetap terjaga tanpa menimbulkan tekanan baru.
Dalam laporan bertajuk “Global Market Outlook 2026 – Blowing Bubbles?”, Standard Chartered juga menilai kenaikan valuasi sejumlah aset global belum mengarah pada gelembung ekonomi sistemik seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Kondisi pasar saat ini masih ditopang oleh fundamental yang relatif sehat.
Laporan tersebut memprediksi aset berisiko, terutama saham, masih berpeluang mencetak kinerja positif sepanjang 2026. Pendorong utamanya adalah pertumbuhan laba korporasi serta munculnya tema struktural baru, seperti akselerasi adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Standard Chartered menggarisbawahi tiga tema investasi utama 2026. Pertama, tema ekuitas yang bertumpu pada pasar dengan prospek pertumbuhan laba kuat. Kedua, tema income melalui obligasi emerging markets yang menawarkan imbal hasil menarik sekaligus fungsi diversifikasi. Ketiga, tema diversifiers seperti emas dan strategi alternatif guna meredam gejolak portofolio.
Strategi tersebut menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. Portofolio investor disarankan dibangun secara lebih terstruktur, mencakup komponen inti, taktis, dan oportunistik agar mampu menyeimbangkan peluang keuntungan dengan pengelolaan risiko jangka panjang.
Sementara itu, CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE menegaskan pihaknya tetap percaya pada daya tarik investasi Indonesia. Meski situasi pasar global masih dibayangi ketidakpastian, reformasi kebijakan yang lebih cepat serta penguatan fundamental ekonomi dinilai menjadi modal penting dikutip Antara.
Menurut Donny, kedisiplinan dalam mengelola portofolio menjadi kunci menghadapi volatilitas. Investor perlu tetap fokus pada tujuan jangka panjang tanpa tergoda oleh dinamika jangka pendek yang sering kali emosional.
“Di tengah kondisi yang menantang, diversifikasi dan perencanaan investasi yang matang akan membantu nasabah melewati fluktuasi pasar sekaligus menjaga peluang pertumbuhan di masa depan,” ujarnya.